Selasa, 06 Juni 2017

Dongeng Aladin Dan Lampu Ajaib

Dongeng Aladin dan Lampu Ajaib

Dongeng Negara : Persia

Dahulu kala di kota Persia, hidup seorang ibu yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari ketika Aladin sedang bermain, dia didekati oleh seorang laki-laki yang mengaku sebagai pamannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi keluar kota. Dengan seijin ibunya, akhirnya Aladin dan laki-laki itu pergi jauh.

Ketika Aladin kelelahan, pamannya marah dan menyuruh Aladin mencari kayu bakar jika tidak Aladin akan dibunuhnya. Kemudian pamannya mulai menyalakan api dengan kayu bakar dan membaca mantera, dan tiba-tiba “kraak…” tanah menjadi berlubang seperti gua. Sadarlah Aladin bahwa laki-laki tersebut adalah seorang penyihir.

Dalam gua itu terdapat tangga sampai kedasarnya “ Ayo turun!! Ambilkan aku lampu antic didasar gua” seru  penyihir. “Tidak… aku takut turun kesana” Kata Aladin. Si Penyihir mengeluarkan cicin dan memberikan pada Aladin. “ini adalah cicin ajaib, cicin ini akan melindungimu” kata si penyihir.

Akhirnya dengan perasaan takut Aladin menuruni tangga menuju dasar gua. Aladin menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada dibawanya, Aladin segera menaiki tangga. Tetapi, pintu sudah tertutup sebagian. “cepaaattt… berikan lampunya!!” seru si penyihir. “Tidaakk… lampu ini akan aku berikan setelah aku keluar” jawab Aladin. Si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Braakk..” pintu gua ditutup oleh si penyihir dan meninggalkan Aladin yang terkurung di gua. Aladin pun sedih “Aku lapar, aku ingin bertemu ibu, Tuhan tolong lah aku” ucap Aladin

Aladin merapatkan tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan berasap. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin terkejut dan ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan, saya adalah peri cicin” kata raksasa itu. “ohh… kalau begitu bawalah aku pulang ke rumah” kata Aladin. “Baiklah Tuan, naiklah ke punggungku, kita akan segera pergi dari sini” peri cicin itu berkata. Dalam sekejap Aladin sudah berada didepan rumah ibunya.

“kalau tuan memerlukan saya, panggilah dengan menggosok cicin Tuan” kata peri cicin

Aladin kemudian menceritakan semua hal yang dialami bersama si penyihir kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya” ibunya bertanya-tanya sambil menggosok lampu tersebut supaya bersih. “syutt….!” Tiba-tiba keluar asap dan muncul raksasa. “sebutkan perintahnya Nyonya” kata si peri lampu. “Kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam sekejap peri lampu membawa makanan yang lezat-lezat. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan mengosok lampu itu”. Kata si peri lampu.

Hari, bulan, tahunpun berganti Aladin hidup bahagia dengan ibunya, dan telah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewatlah seorang Putri Raja didepan rumahnya. Aladin terpesona dan jatuh cinta pada Putri cantik itu. Aladin kemudian menceritakan keinginan pada ibunya untuk mejadikan Putri sebagai istrinya. “Tenang Aladin, ibu akan mengusahakanna”. Akhirnya, ibu Aladin pergi ke istana membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku”. Raja amat senang “wahh… anakmu pasti seorang pangeran, besok aku akan ke istana kalian bersama dengan putriku”

Sesampainya di rumah, ibu Aladin segera menggosok-gosokan lampu dan meminta peri lampu untuk membawa sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu diatas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan istana megah. “Tuan.. ini istananya”. Keesokan harinya Rajapun memenuhi janjinya untuk datang bersama dengan putrinya ke istana Aladin. “Maukah engkau menjadikan putriku sebagai istrimu?” Tanya Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Merekapun melaksanakan pesta pernikahan.

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian melalui bola kristalnya. Lalu ia pun pergi ketempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu. Didepan istana Aladin dia berteriak-teriak “Tukar lampu lama dengan lampu baru..” Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarnya dengan yang baru. Segera si penyihir menggosok lampu dan memerintahkan peri lampu memindahkan istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, alangkah terkejutnya ia karena tidak bisa menemukan istananya. Aladin bertanya pada peri cicin. Peri cicin menceritakan semua yang terjadi “baiklah.. kalau begitu kembalikan lagi istana beserta isinya dan permaisuriku” perintah Aladin pada peri cicin. “ Maaf.. Tuan, tenagaku tidak sebesar peri lampu” ujar peri cicin. “kalau begitu antar kan aku ke istanaku”. Sesampainya di istana, Aladin menyelinap masuk mencari tempat Putri dikurung “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir” ujar si Putri”. “Baiklah, aku akan mengambil kembali lampu ajaib dari si penyihir” kata Aladin. Setelah berhasil mengambil lampu ajaib dari penyihir, Aladin segera menggosok lampu ajaib, dan keluarlah peri lampu. “Singkirkan penjahat ini” seru Aladin pada peri lampu. Penyihir terbangun dan menyerang Aladin, tetapi peri lampu langsung membanting penyihir hingga tewas.

“Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan istana kembali ke Persia”. Sesampai di Persia Aladin hidup bahagia persama permaisuri. Aladin menggunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.




Dongeng kisah si semut sombong

Kisah si semut sombong

Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.
Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. “Hu..huu…betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu..” sedih sang Kepompong meratapi keadaan.

Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata “Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai” kata sang Semut dengan sombongnya.
Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.
“Tolong…tolong….aku terjebak di lumpur hidup..tolong”, teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, “Kayaknya kamu sedang kesulitan ya, semut?” si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.
“Siapa kau?” tanya si Semut galau. “Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina” jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. “Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah”. Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.


Dongeng Putri Malu Dan Cermin Ajaib

Dongeng Putri Malu Dan Cermin Ajaib
Dikisahkan hiduplah seorang gadis yang tinggal sendiri di sebuah rumah yang tidak jauh dari ladang gandum di sebuah negeri yang sangat subur. Gadis itu sangat buruk rupa dan cacat pada bagian wajahnya, sayangnya ia terlalu malu untuk bergaul dan keluar rumah dan bermain dengan teman-teman sebayanya sehingga ia di juluki dengan ”putri malu”.

Putri malu walau wajahnya sangat buruk namun hatinya sangat baik, ia sering menolong orang yang kesusahan dengan membantu apa yang ia bisa lakukan, ia tidak menghiraukan wajahnya yang buruk namun ia berhati mulia dan sebenarnya banyak orang yang suka dengan kebaikan hatinya.

Kini putri malu hidupnya sehari hanya tinggal di dalam rumah kayu dan jarang sekalu keluar rumah. Pada suatu malam bulan purnama, si putri malu memberanikan diri untuk keluar, karena yakin tidak ada orang yang bisa melihat rupanya dengan jelas seperti pada siang hari.

Kemudian ia duduk dibawah pohon yang rindang sambil memandangi langit yang bersih dan terang serta bertaburan bintang seraya berkata, ”Hai bintang di langit, ijinkan aku untuk meminta sesuatu kepadamu, bisakah aku menjadi cantik seperti kebanyak gadis yang lain?”. Sambil berlinang air mata, putri malu menatap langit biru nan terang malam itu.

Kemudian setelah larut malam, putri malu kembali masuk kedalam rumah, baru sampai depan pintu, tiba-tiba ia merakan menginjak sebuah benda. ”Hey, benda apa ini?”, kemudian ia memungut benda tersebut dan ternyata adalah sebuah cermin.

Ia heran kenapa cermin ini ada di luar rumah dan tidak biasanya ia melihat cermin sebesar wajahnya berada di luar kamarnya. Kemudian ia masuk kamar dan sebelum tidur ia mencermati wajahnya di cermin baru yang ia temukan di depan pintu rumahnya.

”Wahai cermin, bisakah kau merubah wajahku menjadi sangat cantik sebelum aku tidur malam ini?”, tiba-tiba dari balik cermin muncul seorang peri yang tersenyum melihat wajah putri malu yang bertanya kepada cermin.

”Tuan putri, sebenarnya kau sudah cantik dari dalam batinmu, kau sering menolong orang yang sedang kesusahan walau dirimu sedang dalam kesusahan, ketahuilah engkau seperti tuan putri yang sedang dalam ujian, namun akhirnya kau telah berhasil melawan karma mu karena kau telah berbaik hati kepada sesama”. peri yang ada di dalam cermin berkata sambil tersenyum kepada putri malu.

Akhirnya karena kesabaran serta hati yang baik, putri malu berubah menjadi cantik kembali dan kini putri malu tinggal bersama pangeran yang datang meminangnya sebagai putri kerajaan yang berwajah cantik dan baik hatinya.

Akhir Bencana di Negeri Dongeng

Dongeng Akhir Bencana di Negeri Dongeng

Pada suatu ketika di Negeri Dongeng, terjadi musim hujan yang sangat panjang. Setiap hari hujan tak pernah berhenti. Siang malam selalu saja di guyur dengan hujan yang lebat, dan sejak musim hujan yang panjang itu terjadi, semakin banyak saja keanehan setiap harinya.

Sang Raja mulai cemas dengan keadaan ini, karena banyak keluhan dari rakyatnya yang kebanjiran, kekurangan makanan dan gagal panen. Laporan yang diterima raja kali ini sangat aneh, paling aneh dari sebelumnya. Ternyata sekarang beberapa pepohonan ada yang bisa berbicara seperti manusia.

Untuk membuktikan laporan dari rakyatnya tersebut, sang raja dongeng langsung menuju ke rumah rakyatnya itu, untuk melihat dengan langsung pepohonan yang bisa bicara seperti manusia. Sang raja pergi dengan iringan pengawal dan para menteri untuk memastikan keanehan tersebut.

Dengan menggunakan payung kerajaan yang besar sang raja bersama rombongan berjalan. Sungai-sungai yang dilalui terlihat mengalirkan air yang begitu besar, karena hujan tidak berhenti sejak lama. Sawah-sawah mulai terendam banjir, bahkan ada beberapa rumah yang mulai di genangi air hingga menutupi teras rumah tempat bermain anak-anak. Sungguh menyedihkan.

Sesampainya di tujuan, rombongan kerajaan di kagetkan dengan kegaduhan dari sekitar rumah rakyatnya tersebut . Ternyata disana pepohonan yang peliharaan rakyatnya itu ramai berbicara, dan dengan keheranan sang raja menyapa pepohonan itu.

Hey rakyatku! Apa gerangan yang sedang kalian bicarakan dan apa yang kalian inginkan? Dengan berwibawa sang raja menyapa dan bertanya.

Paduka Raja, untunglah paduka cepat datang. Kami ingin tinggal di istana, karena kami kedinginan disini, kami sudah tidak sanggup lagi pepohonan itu berbicara hampir bersamaan.

Hmmmm! Baiklah aku bisa membawa kalian ke istana, tapi bagaimana dengan kamu pohon besar? Aku tidak bisa membawamu, karena kamu terlalu besar sang raja berkata sambil melihat ke atas, karna pohon besar itulah yang tadi berbicara paling keras dan menggema.

Tebang saja Paduka! Itu tidak akan menyakitiku, karna aku adalah pohon. Jadikan kami kayu bakar di istana Paduka! Itu adalah kebanggan dan kehormatan buat kami

ooh baiklah kalo begitu, kami akan bawa kalian ke istana.

Setelah selesai menebang pohon, para pengawal kerajaan dan rombongan bergegas menuju ke istana. Pak tani dan keluarganya ikut ke istana, karena pepohonan itu ingin mengajak majikannya. Yaitu pak tani. Pada waktu itu hujan masih turun, tapi tidak terlalu besar, hanya grimis saja.

Sesampainya di istana, raja dan rombongan di kagetkan oleh suara yang sangat gaduh. Ternyata kayu bakar di istana semuanya sudah bisa berbicara. Dan kayu-kayu bakar itu tidak mau di bakar, mereka ingin duduk di kursi kerajaan. Sang raja kebingungan dan akhirnya kayu bakar itu di tempatkan di ruangan yang biasa di pakai untuk raja dan para mentri berdiskusi. Di ruangan tersebut kayu bakar itu berkumpul. Ada yang berteriak, mengobrol dan ada juga yang tertawa. Mereka sangat menikmatinya.

Sang raja menyaksikan semua itu terkagum kagum. Dia berkeliling disekitar istana melihat keanehan yang baru di alaminya. Seumur hidupnya, baru saat itu melihat pepohonan dan kayu-kayu itu dapat berbicara. Kayu itu ada yang sudah tua disebut kakek oleh kayu kayu disekitarnya. Mereka ternyata berkeluarga, ada anak, keponakan ayah dan ibu. Ada juga yang tingi, besar dan ada juga yang kurus. Yang kurus itu adalah anak yang nakal begitulah kata si kakek ketika di tanya oleh sang raja.

Tiba-tiba sorang pelayan kerajaan yang bertugas memasak menghampiri sang raja. Dengan panik ia kemudian berlutut di hadapan sang raja, dan kemudian dia berbicara.

Maaf paduka raja, di dapur ada masalah besar

hmmm, ada apa pelayan?

Paduka, Semua kayu bakar berdemo, mereka tidak mau di bakar lagi. Kami tidak bisa memasak lagi paduka. Kini mereka semua berkumpul di ruang sidang, tidak ada satupun yang mau di bakar untuk memasak

hmmmm, baiklah aku akan menghampiri mereka.

Sang raja kemudian menuju ruangan sidang, untuk melihat kayu-kayu bakar yang tidak mau di pakai memasak tersebut. Sesampainya di ruangan sidang, terdengar kayu kayu itu bergemuruh. Dan saat sang raja membuka pintu ruangan sidang. Mereka berhenti bersuara, lalu sebuah kayu bakar yang terlihat paling besar dari semuanya berbicara.

Raja, kami ingin meminta keadilan. Karena selama ini kami diperlakukan tidak adil. Kami dipakai memasak dan menghangatkan semua orang. Lalu setelah itu kami akan menjadi abu dan dibuang.

Raja tertegun, tak bisa berkata apa apa, karna bingung. Penjelasan seperti apa yang akan diungkapkannya. Dan tiba-tiba, raja di kagetkan suara tiang penyangga istana .

Betul raja kami juga minta keadilan. Karna kami sudah lelah menahan atap istana ini tiap hari .

Sang raja kemudian menutup telinganya, dengan kedua tangannya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Karena meja, kursi dan jendela dan semua yang terbuat dari kayu bisa berbicara.

keadilan! Keadilan ! Keadilan!

Sang raja kemudian membuka tangan dari telinganya, karena suasana sudah sepi. Ternyata memang benar sudah tak ada yang bicara. Raja menarik nafas panjang, merasa lega dengan semuanya. Namun kembali raja di kagetkan suara yang menggema dari patung hiasan yang ada di dinding ruangan itu. Dengan suara yang berat, seperti suara kakek kakek yang sudah sangat tua.

Paduka raja, mereka masih berbicara. Mereka adalah cucu-cucuku, yang lebih dari jutaan tahun, dan entah berapa lama aku hidup aku sudah tidak dapat menghitungnya. Aku sengaja menyuruh mereka diam saat ini. karena ada yang akan aku sampaikan kepada paduka raja

Baiklah, silahkan sampaikan apa keinginanmu?

Paduka raja, aku telah ratusan tahun hidup disini, dan aku mengetahui semua yang terjadi di luar sana, karna kami selalu berbicara meskipun semua manusia tidak bisa mendengarnya. Dan ketahuilah musim hujan yang panjang ini adalah tangisan langit karena dia merasa sedih dengan keadaan sekarang. Langit bersedih karena ada ketidakadilan di bawahnya.

Siapa yang membuat langit bersedih, dan apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya tidak bersedih?

Hmmmm,,, Paduka raja lah yang telah membuat langit bersedih. Karena telah melakukan penebangan pohon-pohon yang ada di hutan dengan semena-mena, dan menjual kayu itu ke negeri seberang. Karena itulah langit tidak berhenti menangis setiap hari dan malam, dia bersedih karena raja juga tidak pernah menanam pohon sebagai penggantinya. Ketahuilah rajaku, jika tidak segera di hentikan maka air mata Langit akan habis di pakai setiap hari. Dan ketika itulah kemarau panjang akan terjadi. Dan itu adalah bencana yang sangat besar buat kita semua

Sejak mendengar perkataan patung itu, raja tidak pernah lagi menjual kayu ke negeri seberang. Dan perkataan patung itu adalah perkataan terakhir dari para kayu. Kini tidak ada lagi kayu yang dapat berbicara

Sejak itu hujan memang berhenti , dan sang raja pun merasa bahagia, karena tidak lagi mendapat keanehan seperti sebelumnya. Raja kini di juluki Si Raja Adil oleh rakyatnya.

Rakyat semakin makmur karena sawah dan perkebunannya mendapatkan pengairan yang normal. Sehingga kesejahteraan mereka semakin meningkat.

Akhirnya kedamaian dan keindahan kembali lagi

Dongeng Princess Alika

Dongeng Princess Alika
Di kerajaan Hamesha tinggal seorang puteri cantik bernama Alika. Rambutnya panjang terurai dan matanya besar. Hobinya adalah melukis. Sebenarnya, Alika punya banyak hobi, misalnya membaca, menari, nonton drama, tapi yang paling disukai adalah melukis.

Pagi hari setelah sarapan, Alika bisanya langsung meminta para pelayan membawa peralatan lukisnya ke suatu tempat. Bisa di balkon istana, di taman, atau di dalam istana. Yang merepotkan kalau Alika ingin melukis keadaan di luar istana. Misalnya tiba-tiba ingin melukis pasar. Wah, pasukan kerajaan pun harus ikut untuk mengamankan Alika.

“Puteriku, bukannya Ayah melarangmu melukis. Tapi janganlah membuat orang lain repot kalau ingin melukis,” ujar Raja Hamesha beberapa kali.

“Ayah, sebenarnya aku tidak meminta para pelayan dan pengawal itu terus mengikutiku melukis. Aku lebih suka pergi melukis sendiri tanpa dikawal prajurit istana. Cukup ditemani satu pelayan saja,” kata Alika.

“Tentu saja tidak bisa begitu. Kecuali kamu melukis di dalam istana. Kalau di luar istana, kamu tetap harus ditemani para pengawal,” kata Raja Hamesha.

Alika mengeluh kesal dalam hatinya. Sebenarnya, ia tidak suka kalau melukis di luar istana diikuti para pengawal. Suasananya jadi tidak seperti biasanya. Tidak alami. Suasana pasar misalnya. Jadi sangat tertib dan para pedagang berwajah ketakutan karena ada pengawal. Hmmm..., padahal Alika ingin melukis pasar yang sebenarnya.

“Ah, nanti malam aku ingin melukis kehidupan malam di perkampungan rakyat. Hmmm..., tapi aku tidak ingin dikawal prajkurit istana. Bagaimana caranya ya?” pikir Alika kemudian.

Aha! Akhirnya Alika menemukan satu cara.

Setelah makan malam, Alika langsung menuju kamarnya. Ia lantas mendirikan alat lukis di dekat jendela kamar, juga guling yang dipakaikan bajunya. Dari kejauhan tampak seperti Alika yang sedang melukis di jendela kamar. Setelah itu Alika mengendap-endap ke luar istana sambil membawa peralatan lukisnya.

Alika menemukan satu jalan rahasia dari perpustakaan istana menuju ke sebuah menara di perkampungan. Walau sedikit gelap dan bau lembab, Alika mennyusuri lorong gelap itu. Ufh... Akhirnya ia menaiki tangga, menuju pintu menara tua di tengah perkampungan. Ia merasa lega ketika tak ada seorang pun yang melihatnya.

“Tapi apa yang harus kulukis, ya?” tanya Alika dalam hati.

Alika memperhatikan rumah-rumah di sekelilingnya. Kemudian, Alika memutuskan untuk memerhatikan rumah-rumah itu dulu, baru melukisnya. Ia ingin melihat-lihat dulu dari jendela rumah-rumah itu, siapa tahu ada hal yang menarik untuk dilukis.

Di rumah pertama, Alika melihat seorang nenek tua tengah terbaring kedinginan. Sepertinya ia membutuhkan baju hangat yang tebal, juga selimut. “Ah, dia juga butuh kaos kaki dan minuman hangat. Mungkin juga kayu bakar untuk menghangatkan ruangan. Kasihan sekali. Apakah dia tidak punya anak seorang pun?” tanya Alika dalam hati.

Di rumah kedua, Alika melihat seorang ibu yang tengah kerepotan mengurus lima anaknya yang masih kecil-kecil.

“Sabarlah, sebentar lagi ayah kalian datang membawa makanan. Ibu juga sudah dua hari tidak makan. Sabar ya …,” kata Ibu itu.

Tak lama kemudian seorang lelaki masuk rumah. Itu ayah mereka. Dia mengeluarkan sepotong roti berukuran kecil. Sang Ibu membagikan roti itu untuk lima anaknya. Ibu itu sama seklai tak kebagian secuil pun.

Alika melongok lagi ke rumah ketiga. Di rumah itu ia melihat sepasang suami isteri tinggal berdua. Mereka berpakaian tebal yang bagus. Di segala penjuru rumah ada makanan enak. Tubuh suami isteri itu juga gendut seperti yang habis makan semua yang ada di meja makan.

Alika melongok ke rumah lainnya. Ada anak yang terbaring sakit, ada dokter yang sedang enak-enak makan, ada wanita muda yang tidur dengan tubuh perhiasan, dan banyak lagi pemandangan yang disangka Alika.

Setelah puas, Alika kembali ke menara tua. Ia tak jadi melukis tetapi malah kembali ke kamar.

Sejak malam itu, Alika jarang ke luar kamarnya. Raja Hamesha jadi cemas. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri puterinya.

“Puteriku, apakah Ayah terlalu kasar padamu, sampai-sampai kamu mengurung diri di kamar terus?” tanya Raja Hamesha.

“Ayah, aku ingin melukis di kamar selama sebulan ini. Tolong jangan diganggu. Nanti setelah sebulan, aku akan mengadakan pameran lukisanku, untuk semua rakyatku. Boleh kan, Ayah?” tanya Alika.

Raja Hamesha menggut-manggut.

Sebulan kemudian Alika menyelesaikan lukisannya. Ia pun memamerkan karya lukisnya di di sebuah gedung yang boleh dikunjungi semua penduduk.

Banyak orang yang kaget melihat karya lukis Alika. Apalagi ketika tahu yang dilukis adalah diri mereka.

Raja Hamesha juga kaget sekaligus terpukul hatinya. Ternyata, selama ini ia tak pernah melihat langsung keadaan rakyatnya. Diantara rakyatnya yang kaya dan sejahtera, masih ada beberapa rakyat yang hidup miskin.

“Puteriku, kamu telah membuka mataku lewat lukisanmu. Mulai saat ini, Ayah akan lebih memerhatikan rakyat lagi,” janji Raja Hamesha.

Alika tersenyum. Ia senang lukisannya bisa menggugah perasaan banyak orang. Bukan sekadar lukisan semata-mata untuk kepuasan pribadinya lagi.

Dongeng Asal Mula Rumah Siput

Dongeng Asal Mula Rumah Siput

Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .

Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh, siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.

Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk. tok..tok..tok. burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur.

Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru.

Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.

Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan.

Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.

Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku. Aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.


Dongeng Putri Bisu *Silent Princess *

Dongeng Putri Bisu *Silent Princess*


Dongeng Negara : Tukri

Zaman dahulu kala ada seorang Raja yang memiliki seorang Pangeran. Shahzada, demikian nama pangeran tersebut, memiliki sebuah bola yang terbuat dari emas yang selalu ia mainkan kapan saja.

Suatu hari saat pangeran sedang duduk di pondok peristirahatannya di halaman istana, lewatlah seorang nenek yang hendak mengambil air dari mata air yang terletak di depan gerbang istana. Timbul ide iseng di pikiran Shahzada. Dilemparnya guci nenek tua tadi dengan bola emasnya. Guci itu pun pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah pun nenek itu mengambil guci lainnya. Namun guci ini pun pecah karena lemparan bola Shahzada. Nenek tua itu gemetar menahan marah. Tapi karena segan dengan sang Raja maka ia hanya diam dan pergi ke toko terdekat untuk mengutang guci baru. Tapi lagi-lagi Shahzada melempar guci itu dengan bolanya hingga pecah. Kini nenek itu benar-benar murka. Dia mengangkat wajahnya ke arah Shahzada.
“Camkan kutukanku ini Pangeran! Aku harap kau akan jatuh cinta kepada Putri bisu!” kutuknya.

Pangeran Shahzada tidak mengerti maksud nenek tua tersebut, tapi kata-katanya terus mengganggu pikirannya. Hal itu memperngaruhi kesehatannya, sehingga Shahzada pun jatuh sakit. Puluhan, dokter, tabib dan dukun telah mencoba menobatinya, namun kesehatannya tak kunjung pulih. Akhirnya suatu malam Raja mendekati putra tunggalnya.

“Anakku, penyakitmu pasti bukan penyakit biasa. Katakan padaku! Apakah akhir-akhir ini ada peristiwa aneh yang menimpamu?” tanya Raja.

Shahzada menceritakan kelakuannya saat memecahkan 3 guci seorang nenek dan kutukan yang dilontarkannya. Lalu Shahzada meminta izin ayahnya untuk pergi mencari Putri Bisu, karena menurutnya hanya dialah yang bisa menyembuhkannya. Dengan berat hati Raja mengijinkan putra kesayangannya pergi dengan ditemani seorang pengawal kepercayaannya.

Singkat cerita, Shahzada dan pengawalnya telah mengembara selama enam bulan. Mereka berjalan siang dan malam dan hanya tidur beberapa saat saja setiap malamnya. Kini mereka tiba di sebuah puncak gunung yang tanah dan bebatuannya bersinar seperti cahaya matahari. Dengan keheranan mereka bertanya pada seorang kakek yang kebetulan lewat.

“Itu karena Putri bisu,” kata si Kakek. “Ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya. Tapi sinar kecantikannya tetap memancar dan terpantul di gunung ini.”
“Dimanakah sang putri berada?” tanya Shahzada.
“Jika kau terus berjalan lurus selama enam bulan lagi, kau akan tiba di istananya,” kata Kakek. “Tapi perlu kuingatkan anak muda! Putri bisu hanyalah julukan. Karena sang Putri sebenarnya hanya tidak mau berbicara. Banyak sudah pemuda yang mencoba membuatnya bicara tapi tidak berhasil. Malang bagi mereka, karena kematianlah yang harus mereka terima.”

Shahzada tidak gentar mendengar berita tersebut. Ia tetap bertekad untuk menemui sang putri Bisu.

Beberapa waktu kemudian mereka tiba di puncak gunung lainnya. Gunung ini pun sangat aneh karena semua tanah dan bebatuannya berwarna merah darah. Sebuah desa tampak terhampar di kaki gunung tersebut.
“Aku sangat lelah,” kata Shahzada. “Mari kita istirahat dulu di desa di bawah sana. Sekalian kita beli perbekalan.”

Mereka pun masuk ke sebuah warung makan. Pemiliknya menyambut mereka dengan hangat. Shahzada menanyakan kenapa gunung yang baru saja mereka turuni berwarna merah darah.

“Oh itu karena Putri Bisu. Meskipun ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya, namun warna bibirnya tetap terpancar di gunung tersebut,” kata pemilik warung. “Tapi anak muda, sudah banyak pemuda yang mencoba membuat sang Putri berbicara tapi semuanya tidak berhasil. Dan kematian adalah hukuman bagi mereka yang gagal.”
“Aku tidak takut,” kata Shahzada. “Katakanlah, berapa jauh lagi istana sang Putri?”
“Tiga bulan perjalanan lagi kau akan sampai di istananya,” kata pemilik warung.

Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, pangeran Shahzada dan pengawalnya melihat sebuah gunung lagi. Di puncaknya berdirilah istana yang sangat megah. Istana Putri Bisu.
Istana Putri bisu jika dilihat dari dekat ternyata sangat mengerikan karena dindingnya dibangun dari tulang belulang manusia.

“Kita harus memiliki rencana yang matang untuk bisa membuat sang Putri bicara, atau tulang belulang kita juga akan menjadi bagian dari dinding istana ini,” kata Shahzada. “Mari kita cari penginapan terlebih dulu untuk berpikir!”

Esoknya Shahzada dan pengawalnya pergi berjalan-jalan untuk mencari ide. Di sebuah pasar ia melihat seekor burung bulbul yang cantik. Shahzada segera membelinya dan membawanya ke kamarnya. Suatu ketika saat Shahzada sedang melamun sendirian, ia mendengar seseorang menyapanya.
“Apa yang kau pikirkan wahai Pangeran?”
Shahzada terkejut karena tidak ada orang lain di kamarnya. Ia kemudian menyadari bahwa burung bulbulnya yang berbicara.
“Subhanallah, ini pasti mukjizat Allah,” pikir Shahzada.

Ia menceritakan perjalanannya untuk menemui putri Bisu dan kesulitannya menemukan cara untuk membuat sang Putri bicara.

“Jangan khawatir Pangeran, aku akan membantumu. Sang putri memakai 7 lapis kerudung. Tidak ada seorang pemuda pun yang pernah melihat wajahnya, demikian pula sang Putri tidak pernah bisa melihat pemuda yang menemuinya,” kata Bulbul. “Besok bawalah aku ke istana. Dan jika kau telah berada di kamar sang Putri, taruhlah aku di bawah tiang lampu. Lalu sapalah sang Putri. Ia pasti tidak akan menjawabmu. Nah, katakan bahwa karena sang Putri tidak mau menjawab maka kau akan berbicara dengan tiang lampu saja. Dan aku akan menjawabnya.”

Maka Shahzada, Bulbul dan pengawalnya pergi menemui ayah putri Bisu di istananya. Ia meminta izin untuk mencoba membuat sang putri berbicara. Shahzada dan Bulbul kemudian diantar ke kamar sang Putri.
“Selamat sore Putri,” kata Shahzada.
Putri Bisu tentu saja tidak menjawab.
“Baiklah karena kau tidak berkenan menjawab, maka aku akan berbicara dengan tiang lampu saja. Mungkin ia lebih punya perasaan daripada anda,” kata Pangeran.
“Apa kabar?” tanya Pangeran kepada tiang lampu.
“Cukup baik. Setelah bertahun-tahun akhirnya ada seseorang yang mau berbicara denganku,” kata Bulbul seolah-olah tiang lampu yang menjawab. “Allah mengirimmu ke sini dan membuatku bahagia. Maukah kau mendengar ceritaku?”
“Tentu!” kata Shahzada.
“Alkisah ada seorang Shah yang memiliki seorang putri. Tiga orang pemuda telah mengajukan lamaran untuk si gadis kepada Shah. Shah lalu berkata kepada ketiga pemuda tersebut: ‘Siapapun yang memiliki keahlian yang tidak biasa maka ialah yang berhak menikahi putriku.’ Pemuda-pemuda itu lalu pergi untuk mencari guru. Mereka pergi kearah yang berbeda. Namun sebelumnya mereka berjanji untuk saling bertemu lagi di sebuah mata air setelah sekian bulan. Pemuda pertama belajar berlari cepat. Jika ia berlari, perjalanan 6 bulan bisa ditempuhnya dalam waktu setengah jam saja. Pemuda kedua belajar cara menghilang. Dan pemuda ketiga belajar meracik obat.

Ketiganya kembali dalam waktu yang hampir bersamaan. Pemuda yang bisa menghilang mengatakan bahwa putri Shah sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal 2 jam lagi. Pemuda ketiga segera menyiapkan ramuan dan pemuda pertama secepat kilat membawanya kepada si gadis. Ramuan itu sangat manjur. Si gadis tidak jadi meninggal dan Shah segera memanggil ketiga pemuda tersebut.

Nah Pangeran, menurutmu pemuda mana yang pantas mendapatkan si gadis. Menurutku pemuda yang bisa menghilang.”
“Tidak! Menurutku pemuda yang meracik obatnya,” kata Shahzada.
Mereka pun berdebat seru dan saling mempertahankan pendapatnya.

Putri Bisu berkata dalam hatinya, “tidak ada yang ingat dengan jasa pemuda yang telah mengantarkan obatnya.”

Akhirnya karena tidak sabar mendengar perdebatan mereka, Putri berteriak: “Dasar bodoh! Aku akan memberikan gadis itu kepada si pembawa obat. Tanpa dia gadis itu pasti sudah mati!”

Raja segera diberi tahu bahwa Putri Bisu telah mau berbicara. Tapi Putri dengan marah berkata bahwa ia telah ditipu dan ia hanya mau mengaku kalah jika Shahzada bisa membuatnya berbicara sebanyak tiga kali. Karena geram, putri pun menghancurkan tiang lampu di kamarnya.

Sore berikutnya, Shahzada dan Bulbul kembali menemui sang putri di kamarnya. Kali ini Shahzada meletakan sangkar Bulbul di dekat salah satu dinding.
“Selamat sore Putri,” sapa Shahzada.
Putri tidak menjawab sepatah kata pun.
“Baiklah. Karena kau tidak mau menjawab, mungkin lebih baik jika aku mengobrol dengan dinding saja. Apa kabarmu dinding?” kata Shahzada.
“Sangat baik,” jawab Bulbul yang pura-pura menjadi dinding. “Aku senang kau mengajakku bicara. Bagaimana kalau aku menghiburmu dengan sebuah cerita?”
“Dengan senang hati,” kata Shahzada.
“Di sebuah kota tinggalah seorang wanita yang dicintai oleh 3 orang pria sekaligus. Ketiga pria itu adalah: Baldji anak si pembuat madu, Jagdji anak si pembuat lemak, dan Tiredji anak si penyamak kulit. Mereka sering mengunjungi si wanita, namun tidak pernah saling bertemu karena mereka selalu berkunjung pada waktu yang berbeda.

Suatu hari, saat si wanita sedang menyisir rambutnya, ia melihat sehelai uban di kepalanya, ‘celaka! Aku sudah mulai tua. Aku harus segera memutuskan dengan siapa aku akan menikah,’ kata si wanita.

Kemudian ia mengundang ketiga teman prianya untuk datang pada jam yang berbeda. Yang pertama datang adalah Jadgji dan ia menemukan bahwa wanita pujaannya sedang berurai air mata. Ia bertanya kenapa dan si wanita menjawab, ‘ Ayahku telah meninggal dan aku telah menguburkannya di kebun belakang, tapi arwahnya selalu menghantuiku. Jika kau mencintaiku, maukah kau berpura-pura menjadi hantu. Pakailah kain sprei ini dan berbaringlah selam 3 jam di kuburan. Maka ia tidak akan menghantuiku lagi.’

Wanita itu menunjuk sebuah lubang kubur yang telah sengaja ia buat dan Jadgji tanpa ragu-ragu memakai kain sprei itu untuk menutupi tubuhnya dan berbaring di dalam lubang kubur tersebut.

Lalu datanglah Baldji yang juga menemukan wanita itu sedang menangis. Si wanita mengulangi ceritanya tentang kematian ayahnya, lalu memberi Baldji sebuah batu besar; ‘Jika hantu itu datang, pukullah dengan batu ini,’ katanya.

Terakhir datanglah Tiredji. Dia juga bertanya kenapa ia menangis. ‘Bagaimana aku tidak sedih,’ kata si wanita. ‘Ayahku telah meninggal dan telah aku kuburkan di kebun belakang. Tapi ternyata ia punya musuh seorang penyihir dan ia bermaksud mengambil mayat ayahku. Lihat, ia bahkan sudah membongkar kuburannya. Jika kau bisa mengambil mayat ayahku maka aku akan selamat tapi jika tidak…’ Si wanita kembali menangis.

Tiredji segera pergi ke kebun belakang untuk mengambil mayat yang tidak lain adalah Jadgji. Tapi Baldji mengira ada dua hantu yang datang dan memukul Jadgji serta Tiredji. Sementara Jadgji mengira hantu ayah si wanitalah yang memukulnya. Ia melemparkan sprei yang ia pakai dan menubruk Baldji. Mereka bertiga terkejut begitu menyadari keadaan yang sebenarnya dan bersama-sama menuntut penjelasan dari si wanita.
Nah Pangeran, menurutmu siapa yang berhak menjadi suami si wanita? Menurutku Tiredji!” kata Bulbul.
Menurut Shahzada, Baldji lebih berhak karena berada dalam posisi yang lebih berbahaya. Mereka berdebat seru, saling mempertahankan pendapatnya. Putri Bisu yang juga mendengarkan cerita Bulbul sangat kecewa karena mereka melupakan peran Jadgji dan ia segera berteriak mengemukakan pendapatnya.

Raja gembira mendengar putrinya berbicara. “Tinggal satu kali anak muda,” katanya pada Shahzada. Sementara sang Putri sangat kesal karena telah dua kali keceplosan. Maka untuk melampiaskan amarahnya ia segera memerintahkan untuk menghancurkan dinding tempat Bulbul bersandar semalam.

Hari ketiga dan merupakan hari penentuan, Shahzada dan Bulbul kembali datang ke kamar sang Putri. Kali ini Shahzada meletakkan Bulbul di belakang pintu kamar Putri. Seperti biasa Putri menolak membuka mulutnya dan kali ini bahkan ia memunggungi Shahzada. Maka Shahzada berpura-pura mengajak bicara pintu. Seperti hari-hari kemarin, Bulbul menceritakan sebuah cerita.

“Alkisah ada seorang Tukang kayu, seorang Penjahit, dan seorang Sakti yang berkelana bersama. Di sebuah kota, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah took dan memulai usaha bersama. Suatu malam saat yang lainnya sedang tidur, Tukang kayu terbangun. Karena tidak bisa tidur lagi, ia iseng memahat sebongkah kayu menjadi sebuah patung wanita yang sangat cantik. Saat patungnya selesai, ia kembali mengantuk dan segera pergi tidur. Tidak berapa lama si Penjahit terbangun. Melihat ada sebuah patung wanita cantik di tengah kamar mereka, ia tergoda untuk membuatkan sehelai pakaian yang sangat indah. Setelah selesai, ia memakaikannya dan kembali tidur. Menjelang pagi si Orang sakti bangun. Ia begitu terpesona melihat patung wanita cantik berpakaian indah tersebut. Maka ia memohon kepada Alloh SWT untuk menghidupkan patung tersebut. Alloh SWT mengabulkan permintaannya dan patung itu menjelma menjadi seorang wanita yang mempesona. Ketika Tukang kayu dan Penjahit bangun serta melihat wanita cantik yang berasal dari patung tersebut, mereka berebut karena masing-masing merasa berhak memilikinya.

Nah Pangeran, siapa menurutmu yang paling berhak?. Menurutku Tukang kayu,” kata Bulbul.
“Tidak bisa, menurutku si Penjahit,” kata Shahzada.

Mereka kembali berdebat seru. Putri bisu bangkit dari tempat duduknya dan dengan marah ia berteriak; “Kalian semua bodoh! Orang sakti itulah yang paling berhak! Wanita itu berhutang nyawa padanya!”

Dan artinya Shahzada berhak menikahi sang Putri karena ia telah tiga kali memecahkan kebisuannya. Maka pesta pernikahan akbar pun digelar selama 40 hari 40 malam. Shahzada secara khusus memanggil nenek yang ia pecahkan kendinya untuk tinggal di istana. Mereka semua hidup bahagia.