Selasa, 06 Juni 2017

Dongeng Aladin Dan Lampu Ajaib

Dongeng Aladin dan Lampu Ajaib

Dongeng Negara : Persia

Dahulu kala di kota Persia, hidup seorang ibu yang tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari ketika Aladin sedang bermain, dia didekati oleh seorang laki-laki yang mengaku sebagai pamannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi keluar kota. Dengan seijin ibunya, akhirnya Aladin dan laki-laki itu pergi jauh.

Ketika Aladin kelelahan, pamannya marah dan menyuruh Aladin mencari kayu bakar jika tidak Aladin akan dibunuhnya. Kemudian pamannya mulai menyalakan api dengan kayu bakar dan membaca mantera, dan tiba-tiba “kraak…” tanah menjadi berlubang seperti gua. Sadarlah Aladin bahwa laki-laki tersebut adalah seorang penyihir.

Dalam gua itu terdapat tangga sampai kedasarnya “ Ayo turun!! Ambilkan aku lampu antic didasar gua” seru  penyihir. “Tidak… aku takut turun kesana” Kata Aladin. Si Penyihir mengeluarkan cicin dan memberikan pada Aladin. “ini adalah cicin ajaib, cicin ini akan melindungimu” kata si penyihir.

Akhirnya dengan perasaan takut Aladin menuruni tangga menuju dasar gua. Aladin menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada dibawanya, Aladin segera menaiki tangga. Tetapi, pintu sudah tertutup sebagian. “cepaaattt… berikan lampunya!!” seru si penyihir. “Tidaakk… lampu ini akan aku berikan setelah aku keluar” jawab Aladin. Si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Braakk..” pintu gua ditutup oleh si penyihir dan meninggalkan Aladin yang terkurung di gua. Aladin pun sedih “Aku lapar, aku ingin bertemu ibu, Tuhan tolong lah aku” ucap Aladin

Aladin merapatkan tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan berasap. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin terkejut dan ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan, saya adalah peri cicin” kata raksasa itu. “ohh… kalau begitu bawalah aku pulang ke rumah” kata Aladin. “Baiklah Tuan, naiklah ke punggungku, kita akan segera pergi dari sini” peri cicin itu berkata. Dalam sekejap Aladin sudah berada didepan rumah ibunya.

“kalau tuan memerlukan saya, panggilah dengan menggosok cicin Tuan” kata peri cicin

Aladin kemudian menceritakan semua hal yang dialami bersama si penyihir kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya” ibunya bertanya-tanya sambil menggosok lampu tersebut supaya bersih. “syutt….!” Tiba-tiba keluar asap dan muncul raksasa. “sebutkan perintahnya Nyonya” kata si peri lampu. “Kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam sekejap peri lampu membawa makanan yang lezat-lezat. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan mengosok lampu itu”. Kata si peri lampu.

Hari, bulan, tahunpun berganti Aladin hidup bahagia dengan ibunya, dan telah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewatlah seorang Putri Raja didepan rumahnya. Aladin terpesona dan jatuh cinta pada Putri cantik itu. Aladin kemudian menceritakan keinginan pada ibunya untuk mejadikan Putri sebagai istrinya. “Tenang Aladin, ibu akan mengusahakanna”. Akhirnya, ibu Aladin pergi ke istana membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku”. Raja amat senang “wahh… anakmu pasti seorang pangeran, besok aku akan ke istana kalian bersama dengan putriku”

Sesampainya di rumah, ibu Aladin segera menggosok-gosokan lampu dan meminta peri lampu untuk membawa sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu diatas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan istana megah. “Tuan.. ini istananya”. Keesokan harinya Rajapun memenuhi janjinya untuk datang bersama dengan putrinya ke istana Aladin. “Maukah engkau menjadikan putriku sebagai istrimu?” Tanya Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Merekapun melaksanakan pesta pernikahan.

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian melalui bola kristalnya. Lalu ia pun pergi ketempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu. Didepan istana Aladin dia berteriak-teriak “Tukar lampu lama dengan lampu baru..” Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarnya dengan yang baru. Segera si penyihir menggosok lampu dan memerintahkan peri lampu memindahkan istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, alangkah terkejutnya ia karena tidak bisa menemukan istananya. Aladin bertanya pada peri cicin. Peri cicin menceritakan semua yang terjadi “baiklah.. kalau begitu kembalikan lagi istana beserta isinya dan permaisuriku” perintah Aladin pada peri cicin. “ Maaf.. Tuan, tenagaku tidak sebesar peri lampu” ujar peri cicin. “kalau begitu antar kan aku ke istanaku”. Sesampainya di istana, Aladin menyelinap masuk mencari tempat Putri dikurung “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir” ujar si Putri”. “Baiklah, aku akan mengambil kembali lampu ajaib dari si penyihir” kata Aladin. Setelah berhasil mengambil lampu ajaib dari penyihir, Aladin segera menggosok lampu ajaib, dan keluarlah peri lampu. “Singkirkan penjahat ini” seru Aladin pada peri lampu. Penyihir terbangun dan menyerang Aladin, tetapi peri lampu langsung membanting penyihir hingga tewas.

“Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan istana kembali ke Persia”. Sesampai di Persia Aladin hidup bahagia persama permaisuri. Aladin menggunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.




Dongeng kisah si semut sombong

Kisah si semut sombong

Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, tinggallah disana bermacam-macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan sebagainya. Pada suatu hari datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu datang seketika sehingga membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Semua hewan panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang terjadi? banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan tersebut menjadi hutan yang berantakan.
Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. “Hu..huu…betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu..” sedih sang Kepompong meratapi keadaan.

Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata “Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai” kata sang Semut dengan sombongnya.
Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.
“Tolong…tolong….aku terjebak di lumpur hidup..tolong”, teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, “Kayaknya kamu sedang kesulitan ya, semut?” si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.
“Siapa kau?” tanya si Semut galau. “Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina” jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. “Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah”. Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.


Dongeng Putri Malu Dan Cermin Ajaib

Dongeng Putri Malu Dan Cermin Ajaib
Dikisahkan hiduplah seorang gadis yang tinggal sendiri di sebuah rumah yang tidak jauh dari ladang gandum di sebuah negeri yang sangat subur. Gadis itu sangat buruk rupa dan cacat pada bagian wajahnya, sayangnya ia terlalu malu untuk bergaul dan keluar rumah dan bermain dengan teman-teman sebayanya sehingga ia di juluki dengan ”putri malu”.

Putri malu walau wajahnya sangat buruk namun hatinya sangat baik, ia sering menolong orang yang kesusahan dengan membantu apa yang ia bisa lakukan, ia tidak menghiraukan wajahnya yang buruk namun ia berhati mulia dan sebenarnya banyak orang yang suka dengan kebaikan hatinya.

Kini putri malu hidupnya sehari hanya tinggal di dalam rumah kayu dan jarang sekalu keluar rumah. Pada suatu malam bulan purnama, si putri malu memberanikan diri untuk keluar, karena yakin tidak ada orang yang bisa melihat rupanya dengan jelas seperti pada siang hari.

Kemudian ia duduk dibawah pohon yang rindang sambil memandangi langit yang bersih dan terang serta bertaburan bintang seraya berkata, ”Hai bintang di langit, ijinkan aku untuk meminta sesuatu kepadamu, bisakah aku menjadi cantik seperti kebanyak gadis yang lain?”. Sambil berlinang air mata, putri malu menatap langit biru nan terang malam itu.

Kemudian setelah larut malam, putri malu kembali masuk kedalam rumah, baru sampai depan pintu, tiba-tiba ia merakan menginjak sebuah benda. ”Hey, benda apa ini?”, kemudian ia memungut benda tersebut dan ternyata adalah sebuah cermin.

Ia heran kenapa cermin ini ada di luar rumah dan tidak biasanya ia melihat cermin sebesar wajahnya berada di luar kamarnya. Kemudian ia masuk kamar dan sebelum tidur ia mencermati wajahnya di cermin baru yang ia temukan di depan pintu rumahnya.

”Wahai cermin, bisakah kau merubah wajahku menjadi sangat cantik sebelum aku tidur malam ini?”, tiba-tiba dari balik cermin muncul seorang peri yang tersenyum melihat wajah putri malu yang bertanya kepada cermin.

”Tuan putri, sebenarnya kau sudah cantik dari dalam batinmu, kau sering menolong orang yang sedang kesusahan walau dirimu sedang dalam kesusahan, ketahuilah engkau seperti tuan putri yang sedang dalam ujian, namun akhirnya kau telah berhasil melawan karma mu karena kau telah berbaik hati kepada sesama”. peri yang ada di dalam cermin berkata sambil tersenyum kepada putri malu.

Akhirnya karena kesabaran serta hati yang baik, putri malu berubah menjadi cantik kembali dan kini putri malu tinggal bersama pangeran yang datang meminangnya sebagai putri kerajaan yang berwajah cantik dan baik hatinya.

Akhir Bencana di Negeri Dongeng

Dongeng Akhir Bencana di Negeri Dongeng

Pada suatu ketika di Negeri Dongeng, terjadi musim hujan yang sangat panjang. Setiap hari hujan tak pernah berhenti. Siang malam selalu saja di guyur dengan hujan yang lebat, dan sejak musim hujan yang panjang itu terjadi, semakin banyak saja keanehan setiap harinya.

Sang Raja mulai cemas dengan keadaan ini, karena banyak keluhan dari rakyatnya yang kebanjiran, kekurangan makanan dan gagal panen. Laporan yang diterima raja kali ini sangat aneh, paling aneh dari sebelumnya. Ternyata sekarang beberapa pepohonan ada yang bisa berbicara seperti manusia.

Untuk membuktikan laporan dari rakyatnya tersebut, sang raja dongeng langsung menuju ke rumah rakyatnya itu, untuk melihat dengan langsung pepohonan yang bisa bicara seperti manusia. Sang raja pergi dengan iringan pengawal dan para menteri untuk memastikan keanehan tersebut.

Dengan menggunakan payung kerajaan yang besar sang raja bersama rombongan berjalan. Sungai-sungai yang dilalui terlihat mengalirkan air yang begitu besar, karena hujan tidak berhenti sejak lama. Sawah-sawah mulai terendam banjir, bahkan ada beberapa rumah yang mulai di genangi air hingga menutupi teras rumah tempat bermain anak-anak. Sungguh menyedihkan.

Sesampainya di tujuan, rombongan kerajaan di kagetkan dengan kegaduhan dari sekitar rumah rakyatnya tersebut . Ternyata disana pepohonan yang peliharaan rakyatnya itu ramai berbicara, dan dengan keheranan sang raja menyapa pepohonan itu.

Hey rakyatku! Apa gerangan yang sedang kalian bicarakan dan apa yang kalian inginkan? Dengan berwibawa sang raja menyapa dan bertanya.

Paduka Raja, untunglah paduka cepat datang. Kami ingin tinggal di istana, karena kami kedinginan disini, kami sudah tidak sanggup lagi pepohonan itu berbicara hampir bersamaan.

Hmmmm! Baiklah aku bisa membawa kalian ke istana, tapi bagaimana dengan kamu pohon besar? Aku tidak bisa membawamu, karena kamu terlalu besar sang raja berkata sambil melihat ke atas, karna pohon besar itulah yang tadi berbicara paling keras dan menggema.

Tebang saja Paduka! Itu tidak akan menyakitiku, karna aku adalah pohon. Jadikan kami kayu bakar di istana Paduka! Itu adalah kebanggan dan kehormatan buat kami

ooh baiklah kalo begitu, kami akan bawa kalian ke istana.

Setelah selesai menebang pohon, para pengawal kerajaan dan rombongan bergegas menuju ke istana. Pak tani dan keluarganya ikut ke istana, karena pepohonan itu ingin mengajak majikannya. Yaitu pak tani. Pada waktu itu hujan masih turun, tapi tidak terlalu besar, hanya grimis saja.

Sesampainya di istana, raja dan rombongan di kagetkan oleh suara yang sangat gaduh. Ternyata kayu bakar di istana semuanya sudah bisa berbicara. Dan kayu-kayu bakar itu tidak mau di bakar, mereka ingin duduk di kursi kerajaan. Sang raja kebingungan dan akhirnya kayu bakar itu di tempatkan di ruangan yang biasa di pakai untuk raja dan para mentri berdiskusi. Di ruangan tersebut kayu bakar itu berkumpul. Ada yang berteriak, mengobrol dan ada juga yang tertawa. Mereka sangat menikmatinya.

Sang raja menyaksikan semua itu terkagum kagum. Dia berkeliling disekitar istana melihat keanehan yang baru di alaminya. Seumur hidupnya, baru saat itu melihat pepohonan dan kayu-kayu itu dapat berbicara. Kayu itu ada yang sudah tua disebut kakek oleh kayu kayu disekitarnya. Mereka ternyata berkeluarga, ada anak, keponakan ayah dan ibu. Ada juga yang tingi, besar dan ada juga yang kurus. Yang kurus itu adalah anak yang nakal begitulah kata si kakek ketika di tanya oleh sang raja.

Tiba-tiba sorang pelayan kerajaan yang bertugas memasak menghampiri sang raja. Dengan panik ia kemudian berlutut di hadapan sang raja, dan kemudian dia berbicara.

Maaf paduka raja, di dapur ada masalah besar

hmmm, ada apa pelayan?

Paduka, Semua kayu bakar berdemo, mereka tidak mau di bakar lagi. Kami tidak bisa memasak lagi paduka. Kini mereka semua berkumpul di ruang sidang, tidak ada satupun yang mau di bakar untuk memasak

hmmmm, baiklah aku akan menghampiri mereka.

Sang raja kemudian menuju ruangan sidang, untuk melihat kayu-kayu bakar yang tidak mau di pakai memasak tersebut. Sesampainya di ruangan sidang, terdengar kayu kayu itu bergemuruh. Dan saat sang raja membuka pintu ruangan sidang. Mereka berhenti bersuara, lalu sebuah kayu bakar yang terlihat paling besar dari semuanya berbicara.

Raja, kami ingin meminta keadilan. Karena selama ini kami diperlakukan tidak adil. Kami dipakai memasak dan menghangatkan semua orang. Lalu setelah itu kami akan menjadi abu dan dibuang.

Raja tertegun, tak bisa berkata apa apa, karna bingung. Penjelasan seperti apa yang akan diungkapkannya. Dan tiba-tiba, raja di kagetkan suara tiang penyangga istana .

Betul raja kami juga minta keadilan. Karna kami sudah lelah menahan atap istana ini tiap hari .

Sang raja kemudian menutup telinganya, dengan kedua tangannya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Karena meja, kursi dan jendela dan semua yang terbuat dari kayu bisa berbicara.

keadilan! Keadilan ! Keadilan!

Sang raja kemudian membuka tangan dari telinganya, karena suasana sudah sepi. Ternyata memang benar sudah tak ada yang bicara. Raja menarik nafas panjang, merasa lega dengan semuanya. Namun kembali raja di kagetkan suara yang menggema dari patung hiasan yang ada di dinding ruangan itu. Dengan suara yang berat, seperti suara kakek kakek yang sudah sangat tua.

Paduka raja, mereka masih berbicara. Mereka adalah cucu-cucuku, yang lebih dari jutaan tahun, dan entah berapa lama aku hidup aku sudah tidak dapat menghitungnya. Aku sengaja menyuruh mereka diam saat ini. karena ada yang akan aku sampaikan kepada paduka raja

Baiklah, silahkan sampaikan apa keinginanmu?

Paduka raja, aku telah ratusan tahun hidup disini, dan aku mengetahui semua yang terjadi di luar sana, karna kami selalu berbicara meskipun semua manusia tidak bisa mendengarnya. Dan ketahuilah musim hujan yang panjang ini adalah tangisan langit karena dia merasa sedih dengan keadaan sekarang. Langit bersedih karena ada ketidakadilan di bawahnya.

Siapa yang membuat langit bersedih, dan apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya tidak bersedih?

Hmmmm,,, Paduka raja lah yang telah membuat langit bersedih. Karena telah melakukan penebangan pohon-pohon yang ada di hutan dengan semena-mena, dan menjual kayu itu ke negeri seberang. Karena itulah langit tidak berhenti menangis setiap hari dan malam, dia bersedih karena raja juga tidak pernah menanam pohon sebagai penggantinya. Ketahuilah rajaku, jika tidak segera di hentikan maka air mata Langit akan habis di pakai setiap hari. Dan ketika itulah kemarau panjang akan terjadi. Dan itu adalah bencana yang sangat besar buat kita semua

Sejak mendengar perkataan patung itu, raja tidak pernah lagi menjual kayu ke negeri seberang. Dan perkataan patung itu adalah perkataan terakhir dari para kayu. Kini tidak ada lagi kayu yang dapat berbicara

Sejak itu hujan memang berhenti , dan sang raja pun merasa bahagia, karena tidak lagi mendapat keanehan seperti sebelumnya. Raja kini di juluki Si Raja Adil oleh rakyatnya.

Rakyat semakin makmur karena sawah dan perkebunannya mendapatkan pengairan yang normal. Sehingga kesejahteraan mereka semakin meningkat.

Akhirnya kedamaian dan keindahan kembali lagi

Dongeng Princess Alika

Dongeng Princess Alika
Di kerajaan Hamesha tinggal seorang puteri cantik bernama Alika. Rambutnya panjang terurai dan matanya besar. Hobinya adalah melukis. Sebenarnya, Alika punya banyak hobi, misalnya membaca, menari, nonton drama, tapi yang paling disukai adalah melukis.

Pagi hari setelah sarapan, Alika bisanya langsung meminta para pelayan membawa peralatan lukisnya ke suatu tempat. Bisa di balkon istana, di taman, atau di dalam istana. Yang merepotkan kalau Alika ingin melukis keadaan di luar istana. Misalnya tiba-tiba ingin melukis pasar. Wah, pasukan kerajaan pun harus ikut untuk mengamankan Alika.

“Puteriku, bukannya Ayah melarangmu melukis. Tapi janganlah membuat orang lain repot kalau ingin melukis,” ujar Raja Hamesha beberapa kali.

“Ayah, sebenarnya aku tidak meminta para pelayan dan pengawal itu terus mengikutiku melukis. Aku lebih suka pergi melukis sendiri tanpa dikawal prajurit istana. Cukup ditemani satu pelayan saja,” kata Alika.

“Tentu saja tidak bisa begitu. Kecuali kamu melukis di dalam istana. Kalau di luar istana, kamu tetap harus ditemani para pengawal,” kata Raja Hamesha.

Alika mengeluh kesal dalam hatinya. Sebenarnya, ia tidak suka kalau melukis di luar istana diikuti para pengawal. Suasananya jadi tidak seperti biasanya. Tidak alami. Suasana pasar misalnya. Jadi sangat tertib dan para pedagang berwajah ketakutan karena ada pengawal. Hmmm..., padahal Alika ingin melukis pasar yang sebenarnya.

“Ah, nanti malam aku ingin melukis kehidupan malam di perkampungan rakyat. Hmmm..., tapi aku tidak ingin dikawal prajkurit istana. Bagaimana caranya ya?” pikir Alika kemudian.

Aha! Akhirnya Alika menemukan satu cara.

Setelah makan malam, Alika langsung menuju kamarnya. Ia lantas mendirikan alat lukis di dekat jendela kamar, juga guling yang dipakaikan bajunya. Dari kejauhan tampak seperti Alika yang sedang melukis di jendela kamar. Setelah itu Alika mengendap-endap ke luar istana sambil membawa peralatan lukisnya.

Alika menemukan satu jalan rahasia dari perpustakaan istana menuju ke sebuah menara di perkampungan. Walau sedikit gelap dan bau lembab, Alika mennyusuri lorong gelap itu. Ufh... Akhirnya ia menaiki tangga, menuju pintu menara tua di tengah perkampungan. Ia merasa lega ketika tak ada seorang pun yang melihatnya.

“Tapi apa yang harus kulukis, ya?” tanya Alika dalam hati.

Alika memperhatikan rumah-rumah di sekelilingnya. Kemudian, Alika memutuskan untuk memerhatikan rumah-rumah itu dulu, baru melukisnya. Ia ingin melihat-lihat dulu dari jendela rumah-rumah itu, siapa tahu ada hal yang menarik untuk dilukis.

Di rumah pertama, Alika melihat seorang nenek tua tengah terbaring kedinginan. Sepertinya ia membutuhkan baju hangat yang tebal, juga selimut. “Ah, dia juga butuh kaos kaki dan minuman hangat. Mungkin juga kayu bakar untuk menghangatkan ruangan. Kasihan sekali. Apakah dia tidak punya anak seorang pun?” tanya Alika dalam hati.

Di rumah kedua, Alika melihat seorang ibu yang tengah kerepotan mengurus lima anaknya yang masih kecil-kecil.

“Sabarlah, sebentar lagi ayah kalian datang membawa makanan. Ibu juga sudah dua hari tidak makan. Sabar ya …,” kata Ibu itu.

Tak lama kemudian seorang lelaki masuk rumah. Itu ayah mereka. Dia mengeluarkan sepotong roti berukuran kecil. Sang Ibu membagikan roti itu untuk lima anaknya. Ibu itu sama seklai tak kebagian secuil pun.

Alika melongok lagi ke rumah ketiga. Di rumah itu ia melihat sepasang suami isteri tinggal berdua. Mereka berpakaian tebal yang bagus. Di segala penjuru rumah ada makanan enak. Tubuh suami isteri itu juga gendut seperti yang habis makan semua yang ada di meja makan.

Alika melongok ke rumah lainnya. Ada anak yang terbaring sakit, ada dokter yang sedang enak-enak makan, ada wanita muda yang tidur dengan tubuh perhiasan, dan banyak lagi pemandangan yang disangka Alika.

Setelah puas, Alika kembali ke menara tua. Ia tak jadi melukis tetapi malah kembali ke kamar.

Sejak malam itu, Alika jarang ke luar kamarnya. Raja Hamesha jadi cemas. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan diri puterinya.

“Puteriku, apakah Ayah terlalu kasar padamu, sampai-sampai kamu mengurung diri di kamar terus?” tanya Raja Hamesha.

“Ayah, aku ingin melukis di kamar selama sebulan ini. Tolong jangan diganggu. Nanti setelah sebulan, aku akan mengadakan pameran lukisanku, untuk semua rakyatku. Boleh kan, Ayah?” tanya Alika.

Raja Hamesha menggut-manggut.

Sebulan kemudian Alika menyelesaikan lukisannya. Ia pun memamerkan karya lukisnya di di sebuah gedung yang boleh dikunjungi semua penduduk.

Banyak orang yang kaget melihat karya lukis Alika. Apalagi ketika tahu yang dilukis adalah diri mereka.

Raja Hamesha juga kaget sekaligus terpukul hatinya. Ternyata, selama ini ia tak pernah melihat langsung keadaan rakyatnya. Diantara rakyatnya yang kaya dan sejahtera, masih ada beberapa rakyat yang hidup miskin.

“Puteriku, kamu telah membuka mataku lewat lukisanmu. Mulai saat ini, Ayah akan lebih memerhatikan rakyat lagi,” janji Raja Hamesha.

Alika tersenyum. Ia senang lukisannya bisa menggugah perasaan banyak orang. Bukan sekadar lukisan semata-mata untuk kepuasan pribadinya lagi.

Dongeng Asal Mula Rumah Siput

Dongeng Asal Mula Rumah Siput

Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .

Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh, siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.
Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.

Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk. tok..tok..tok. burung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur.

Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru.

Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.

Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan.

Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.

Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku. Aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.


Dongeng Putri Bisu *Silent Princess *

Dongeng Putri Bisu *Silent Princess*


Dongeng Negara : Tukri

Zaman dahulu kala ada seorang Raja yang memiliki seorang Pangeran. Shahzada, demikian nama pangeran tersebut, memiliki sebuah bola yang terbuat dari emas yang selalu ia mainkan kapan saja.

Suatu hari saat pangeran sedang duduk di pondok peristirahatannya di halaman istana, lewatlah seorang nenek yang hendak mengambil air dari mata air yang terletak di depan gerbang istana. Timbul ide iseng di pikiran Shahzada. Dilemparnya guci nenek tua tadi dengan bola emasnya. Guci itu pun pecah berkeping-keping. Tanpa berkata sepatah pun nenek itu mengambil guci lainnya. Namun guci ini pun pecah karena lemparan bola Shahzada. Nenek tua itu gemetar menahan marah. Tapi karena segan dengan sang Raja maka ia hanya diam dan pergi ke toko terdekat untuk mengutang guci baru. Tapi lagi-lagi Shahzada melempar guci itu dengan bolanya hingga pecah. Kini nenek itu benar-benar murka. Dia mengangkat wajahnya ke arah Shahzada.
“Camkan kutukanku ini Pangeran! Aku harap kau akan jatuh cinta kepada Putri bisu!” kutuknya.

Pangeran Shahzada tidak mengerti maksud nenek tua tersebut, tapi kata-katanya terus mengganggu pikirannya. Hal itu memperngaruhi kesehatannya, sehingga Shahzada pun jatuh sakit. Puluhan, dokter, tabib dan dukun telah mencoba menobatinya, namun kesehatannya tak kunjung pulih. Akhirnya suatu malam Raja mendekati putra tunggalnya.

“Anakku, penyakitmu pasti bukan penyakit biasa. Katakan padaku! Apakah akhir-akhir ini ada peristiwa aneh yang menimpamu?” tanya Raja.

Shahzada menceritakan kelakuannya saat memecahkan 3 guci seorang nenek dan kutukan yang dilontarkannya. Lalu Shahzada meminta izin ayahnya untuk pergi mencari Putri Bisu, karena menurutnya hanya dialah yang bisa menyembuhkannya. Dengan berat hati Raja mengijinkan putra kesayangannya pergi dengan ditemani seorang pengawal kepercayaannya.

Singkat cerita, Shahzada dan pengawalnya telah mengembara selama enam bulan. Mereka berjalan siang dan malam dan hanya tidur beberapa saat saja setiap malamnya. Kini mereka tiba di sebuah puncak gunung yang tanah dan bebatuannya bersinar seperti cahaya matahari. Dengan keheranan mereka bertanya pada seorang kakek yang kebetulan lewat.

“Itu karena Putri bisu,” kata si Kakek. “Ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya. Tapi sinar kecantikannya tetap memancar dan terpantul di gunung ini.”
“Dimanakah sang putri berada?” tanya Shahzada.
“Jika kau terus berjalan lurus selama enam bulan lagi, kau akan tiba di istananya,” kata Kakek. “Tapi perlu kuingatkan anak muda! Putri bisu hanyalah julukan. Karena sang Putri sebenarnya hanya tidak mau berbicara. Banyak sudah pemuda yang mencoba membuatnya bicara tapi tidak berhasil. Malang bagi mereka, karena kematianlah yang harus mereka terima.”

Shahzada tidak gentar mendengar berita tersebut. Ia tetap bertekad untuk menemui sang putri Bisu.

Beberapa waktu kemudian mereka tiba di puncak gunung lainnya. Gunung ini pun sangat aneh karena semua tanah dan bebatuannya berwarna merah darah. Sebuah desa tampak terhampar di kaki gunung tersebut.
“Aku sangat lelah,” kata Shahzada. “Mari kita istirahat dulu di desa di bawah sana. Sekalian kita beli perbekalan.”

Mereka pun masuk ke sebuah warung makan. Pemiliknya menyambut mereka dengan hangat. Shahzada menanyakan kenapa gunung yang baru saja mereka turuni berwarna merah darah.

“Oh itu karena Putri Bisu. Meskipun ia memakai 7 lapis kerudung yang menutupi wajahnya, namun warna bibirnya tetap terpancar di gunung tersebut,” kata pemilik warung. “Tapi anak muda, sudah banyak pemuda yang mencoba membuat sang Putri berbicara tapi semuanya tidak berhasil. Dan kematian adalah hukuman bagi mereka yang gagal.”
“Aku tidak takut,” kata Shahzada. “Katakanlah, berapa jauh lagi istana sang Putri?”
“Tiga bulan perjalanan lagi kau akan sampai di istananya,” kata pemilik warung.

Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, pangeran Shahzada dan pengawalnya melihat sebuah gunung lagi. Di puncaknya berdirilah istana yang sangat megah. Istana Putri Bisu.
Istana Putri bisu jika dilihat dari dekat ternyata sangat mengerikan karena dindingnya dibangun dari tulang belulang manusia.

“Kita harus memiliki rencana yang matang untuk bisa membuat sang Putri bicara, atau tulang belulang kita juga akan menjadi bagian dari dinding istana ini,” kata Shahzada. “Mari kita cari penginapan terlebih dulu untuk berpikir!”

Esoknya Shahzada dan pengawalnya pergi berjalan-jalan untuk mencari ide. Di sebuah pasar ia melihat seekor burung bulbul yang cantik. Shahzada segera membelinya dan membawanya ke kamarnya. Suatu ketika saat Shahzada sedang melamun sendirian, ia mendengar seseorang menyapanya.
“Apa yang kau pikirkan wahai Pangeran?”
Shahzada terkejut karena tidak ada orang lain di kamarnya. Ia kemudian menyadari bahwa burung bulbulnya yang berbicara.
“Subhanallah, ini pasti mukjizat Allah,” pikir Shahzada.

Ia menceritakan perjalanannya untuk menemui putri Bisu dan kesulitannya menemukan cara untuk membuat sang Putri bicara.

“Jangan khawatir Pangeran, aku akan membantumu. Sang putri memakai 7 lapis kerudung. Tidak ada seorang pemuda pun yang pernah melihat wajahnya, demikian pula sang Putri tidak pernah bisa melihat pemuda yang menemuinya,” kata Bulbul. “Besok bawalah aku ke istana. Dan jika kau telah berada di kamar sang Putri, taruhlah aku di bawah tiang lampu. Lalu sapalah sang Putri. Ia pasti tidak akan menjawabmu. Nah, katakan bahwa karena sang Putri tidak mau menjawab maka kau akan berbicara dengan tiang lampu saja. Dan aku akan menjawabnya.”

Maka Shahzada, Bulbul dan pengawalnya pergi menemui ayah putri Bisu di istananya. Ia meminta izin untuk mencoba membuat sang putri berbicara. Shahzada dan Bulbul kemudian diantar ke kamar sang Putri.
“Selamat sore Putri,” kata Shahzada.
Putri Bisu tentu saja tidak menjawab.
“Baiklah karena kau tidak berkenan menjawab, maka aku akan berbicara dengan tiang lampu saja. Mungkin ia lebih punya perasaan daripada anda,” kata Pangeran.
“Apa kabar?” tanya Pangeran kepada tiang lampu.
“Cukup baik. Setelah bertahun-tahun akhirnya ada seseorang yang mau berbicara denganku,” kata Bulbul seolah-olah tiang lampu yang menjawab. “Allah mengirimmu ke sini dan membuatku bahagia. Maukah kau mendengar ceritaku?”
“Tentu!” kata Shahzada.
“Alkisah ada seorang Shah yang memiliki seorang putri. Tiga orang pemuda telah mengajukan lamaran untuk si gadis kepada Shah. Shah lalu berkata kepada ketiga pemuda tersebut: ‘Siapapun yang memiliki keahlian yang tidak biasa maka ialah yang berhak menikahi putriku.’ Pemuda-pemuda itu lalu pergi untuk mencari guru. Mereka pergi kearah yang berbeda. Namun sebelumnya mereka berjanji untuk saling bertemu lagi di sebuah mata air setelah sekian bulan. Pemuda pertama belajar berlari cepat. Jika ia berlari, perjalanan 6 bulan bisa ditempuhnya dalam waktu setengah jam saja. Pemuda kedua belajar cara menghilang. Dan pemuda ketiga belajar meracik obat.

Ketiganya kembali dalam waktu yang hampir bersamaan. Pemuda yang bisa menghilang mengatakan bahwa putri Shah sedang sakit keras dan mungkin akan meninggal 2 jam lagi. Pemuda ketiga segera menyiapkan ramuan dan pemuda pertama secepat kilat membawanya kepada si gadis. Ramuan itu sangat manjur. Si gadis tidak jadi meninggal dan Shah segera memanggil ketiga pemuda tersebut.

Nah Pangeran, menurutmu pemuda mana yang pantas mendapatkan si gadis. Menurutku pemuda yang bisa menghilang.”
“Tidak! Menurutku pemuda yang meracik obatnya,” kata Shahzada.
Mereka pun berdebat seru dan saling mempertahankan pendapatnya.

Putri Bisu berkata dalam hatinya, “tidak ada yang ingat dengan jasa pemuda yang telah mengantarkan obatnya.”

Akhirnya karena tidak sabar mendengar perdebatan mereka, Putri berteriak: “Dasar bodoh! Aku akan memberikan gadis itu kepada si pembawa obat. Tanpa dia gadis itu pasti sudah mati!”

Raja segera diberi tahu bahwa Putri Bisu telah mau berbicara. Tapi Putri dengan marah berkata bahwa ia telah ditipu dan ia hanya mau mengaku kalah jika Shahzada bisa membuatnya berbicara sebanyak tiga kali. Karena geram, putri pun menghancurkan tiang lampu di kamarnya.

Sore berikutnya, Shahzada dan Bulbul kembali menemui sang putri di kamarnya. Kali ini Shahzada meletakan sangkar Bulbul di dekat salah satu dinding.
“Selamat sore Putri,” sapa Shahzada.
Putri tidak menjawab sepatah kata pun.
“Baiklah. Karena kau tidak mau menjawab, mungkin lebih baik jika aku mengobrol dengan dinding saja. Apa kabarmu dinding?” kata Shahzada.
“Sangat baik,” jawab Bulbul yang pura-pura menjadi dinding. “Aku senang kau mengajakku bicara. Bagaimana kalau aku menghiburmu dengan sebuah cerita?”
“Dengan senang hati,” kata Shahzada.
“Di sebuah kota tinggalah seorang wanita yang dicintai oleh 3 orang pria sekaligus. Ketiga pria itu adalah: Baldji anak si pembuat madu, Jagdji anak si pembuat lemak, dan Tiredji anak si penyamak kulit. Mereka sering mengunjungi si wanita, namun tidak pernah saling bertemu karena mereka selalu berkunjung pada waktu yang berbeda.

Suatu hari, saat si wanita sedang menyisir rambutnya, ia melihat sehelai uban di kepalanya, ‘celaka! Aku sudah mulai tua. Aku harus segera memutuskan dengan siapa aku akan menikah,’ kata si wanita.

Kemudian ia mengundang ketiga teman prianya untuk datang pada jam yang berbeda. Yang pertama datang adalah Jadgji dan ia menemukan bahwa wanita pujaannya sedang berurai air mata. Ia bertanya kenapa dan si wanita menjawab, ‘ Ayahku telah meninggal dan aku telah menguburkannya di kebun belakang, tapi arwahnya selalu menghantuiku. Jika kau mencintaiku, maukah kau berpura-pura menjadi hantu. Pakailah kain sprei ini dan berbaringlah selam 3 jam di kuburan. Maka ia tidak akan menghantuiku lagi.’

Wanita itu menunjuk sebuah lubang kubur yang telah sengaja ia buat dan Jadgji tanpa ragu-ragu memakai kain sprei itu untuk menutupi tubuhnya dan berbaring di dalam lubang kubur tersebut.

Lalu datanglah Baldji yang juga menemukan wanita itu sedang menangis. Si wanita mengulangi ceritanya tentang kematian ayahnya, lalu memberi Baldji sebuah batu besar; ‘Jika hantu itu datang, pukullah dengan batu ini,’ katanya.

Terakhir datanglah Tiredji. Dia juga bertanya kenapa ia menangis. ‘Bagaimana aku tidak sedih,’ kata si wanita. ‘Ayahku telah meninggal dan telah aku kuburkan di kebun belakang. Tapi ternyata ia punya musuh seorang penyihir dan ia bermaksud mengambil mayat ayahku. Lihat, ia bahkan sudah membongkar kuburannya. Jika kau bisa mengambil mayat ayahku maka aku akan selamat tapi jika tidak…’ Si wanita kembali menangis.

Tiredji segera pergi ke kebun belakang untuk mengambil mayat yang tidak lain adalah Jadgji. Tapi Baldji mengira ada dua hantu yang datang dan memukul Jadgji serta Tiredji. Sementara Jadgji mengira hantu ayah si wanitalah yang memukulnya. Ia melemparkan sprei yang ia pakai dan menubruk Baldji. Mereka bertiga terkejut begitu menyadari keadaan yang sebenarnya dan bersama-sama menuntut penjelasan dari si wanita.
Nah Pangeran, menurutmu siapa yang berhak menjadi suami si wanita? Menurutku Tiredji!” kata Bulbul.
Menurut Shahzada, Baldji lebih berhak karena berada dalam posisi yang lebih berbahaya. Mereka berdebat seru, saling mempertahankan pendapatnya. Putri Bisu yang juga mendengarkan cerita Bulbul sangat kecewa karena mereka melupakan peran Jadgji dan ia segera berteriak mengemukakan pendapatnya.

Raja gembira mendengar putrinya berbicara. “Tinggal satu kali anak muda,” katanya pada Shahzada. Sementara sang Putri sangat kesal karena telah dua kali keceplosan. Maka untuk melampiaskan amarahnya ia segera memerintahkan untuk menghancurkan dinding tempat Bulbul bersandar semalam.

Hari ketiga dan merupakan hari penentuan, Shahzada dan Bulbul kembali datang ke kamar sang Putri. Kali ini Shahzada meletakkan Bulbul di belakang pintu kamar Putri. Seperti biasa Putri menolak membuka mulutnya dan kali ini bahkan ia memunggungi Shahzada. Maka Shahzada berpura-pura mengajak bicara pintu. Seperti hari-hari kemarin, Bulbul menceritakan sebuah cerita.

“Alkisah ada seorang Tukang kayu, seorang Penjahit, dan seorang Sakti yang berkelana bersama. Di sebuah kota, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah took dan memulai usaha bersama. Suatu malam saat yang lainnya sedang tidur, Tukang kayu terbangun. Karena tidak bisa tidur lagi, ia iseng memahat sebongkah kayu menjadi sebuah patung wanita yang sangat cantik. Saat patungnya selesai, ia kembali mengantuk dan segera pergi tidur. Tidak berapa lama si Penjahit terbangun. Melihat ada sebuah patung wanita cantik di tengah kamar mereka, ia tergoda untuk membuatkan sehelai pakaian yang sangat indah. Setelah selesai, ia memakaikannya dan kembali tidur. Menjelang pagi si Orang sakti bangun. Ia begitu terpesona melihat patung wanita cantik berpakaian indah tersebut. Maka ia memohon kepada Alloh SWT untuk menghidupkan patung tersebut. Alloh SWT mengabulkan permintaannya dan patung itu menjelma menjadi seorang wanita yang mempesona. Ketika Tukang kayu dan Penjahit bangun serta melihat wanita cantik yang berasal dari patung tersebut, mereka berebut karena masing-masing merasa berhak memilikinya.

Nah Pangeran, siapa menurutmu yang paling berhak?. Menurutku Tukang kayu,” kata Bulbul.
“Tidak bisa, menurutku si Penjahit,” kata Shahzada.

Mereka kembali berdebat seru. Putri bisu bangkit dari tempat duduknya dan dengan marah ia berteriak; “Kalian semua bodoh! Orang sakti itulah yang paling berhak! Wanita itu berhutang nyawa padanya!”

Dan artinya Shahzada berhak menikahi sang Putri karena ia telah tiga kali memecahkan kebisuannya. Maka pesta pernikahan akbar pun digelar selama 40 hari 40 malam. Shahzada secara khusus memanggil nenek yang ia pecahkan kendinya untuk tinggal di istana. Mereka semua hidup bahagia.

Dongeng Semut Dan Gajah

Dongeng Semut dan Gajah

Tersebutlah, di sebuah negeri antah berantah. Kekuatan gajah sangat dominan dalam mengusai sebagian wilayah pasokan makanan bagi kehidupan binatang. Para gajah yang menguasai wilayah pasangan itu tidak ada lawan tanding yang seimbang. Bahkan harimau dan singa yang dijuluki sebagai raja hutan atau raja rimba sekalipun tidak berani memangsa dan mengganggunya. Kondisi inilah yang membuat para gajah begitu angkuh, sehingga mereka telah menganggap dirinya sebagai raja dari segala raja yang ada hutan.
“Hwa ha ha ha!” demikian tawa gajah yang menyombongkan dirinya, saat mengukur diri betapa golongannya jauh lebih kuat dari binatang rimba lainnya.
Tidak ada yang ditakutinya meski mereka memiliki taring besar seperti Harimau dan Singa sekalipun. Karena keduanya pastilah menghindar bila telah berpapasan dengan para Gajah yang dengan angkuh menghentak-hentak kaki ke bumi dan melambai-lambaikan belalainya seakan ingin merobohkan semua yang menghalangi perjalanannya.

Sementara itu semut kecil terinjak. Berhamburan menyelamatkan diri masing masing. Kawanan gajah tak perduli dengan apa yang ada di bawahnya. Mereka terus berjalan menuju tujuannya yang semula. Tak sedikitpun merasa bersalah akan apa yang telah terjadi saat itu.
Senyap tak bersuara. Hening tiada arti. Semut kecil yang berteriak diantara para gajah yang bergerombol. Meski teriak memekik makhluk kecil itu tetap tak akan terdengar. Karena dia berada dalam kekecilan yang pasti. Sementara dunia luas tetap saja enggan menoleh dan mencari dimana suara yang samar itu berawal.
Semut-semut kecil yang sedang ramai berkerja itu kini berkerumun kembali. Menyaksikan saudaranya yang terkapar. Kesedihan diantara mereka kini begitu mendalam. Karena kematian itu begitu mendadak. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Koloni itu kini kembali berhamburan. Saat rombongan gajah yang lain melintas. Dengan keangkuhan dan keganasan mereka. Beruntunglah kali ini tidak begitu banyak korban seperti sebelumnya. Karena koloni semut itu sedang tidak bekerja. Mereka memang sedang menyaksikan keluarga dan teman mereka yang tadi terinjak oleh rombongan gajah yang pertama.

Setelah keadaan sepi. Mereka yang bersembunyi di balik pepohonan itu kembali berkumpul. Dengan segara sang pemimpin pasukan pekerja koloni itu memutuskan untuk membawa para korban ke istananya. Istana yang berupa sarang didalam tanah.
Upacara sakral kini berlangsung. Para tokoh di kerajan semut berkumpul. Mereka melakukan ritual penghormatan terakhir. Terhadap saudara mereka sesama koloni yang menjadi korban. Mereka melakukan upacara itu dengan iringan doa dari semuanya. Supaya yang telah tiada itu mendapatkan posisi terbaik di sisiNya. Yang maha menguasai dari seluruh kekuasaan.
Upacara di tutup dengan isak tangis dan keresahan yang dirasakan seluruh koloni. Karena esok lusa bisa saja Keangkuhan dan kesombongan para gajah itu kembali terjadi. Karena mereka mendengar kata-kata terakhir dari gajah yang berlalu dengan ganasnya itu.

“siapapun kalian. Karna tidak menyingkir dari jalan kami. Maka terimalah akibatnya”
Begitulah kata-kata Gajah itu sambil berlalu. Tanpa melihat berapa banyak korban yang telah tiada. Para Gajah itu memang tidak takut dengan apapun dan siapapun.

Tiba-tiba dari paling belakang kerumunan ada yang berteriak.
“Ini tidak bisa di biarkan. Mereka terlalu sombong. Mereka terlalu angkuh hingga kematian saudara kita tidak dihiraukan. Bahkan mereka tidak menyadari semuanya”
“Betul saudara-saudara. Ini semua sudah keterlaluan” dari tengah kerumunan dengan badan tinggi besar itu bersuara.
“Tapi bagaimana caranya? Sedangkan singa saja tidak berani mengganggu gajah. Pada siapa lagi kita akan meminta bantuan?” dari dekat altar istana, suara itu terdengar.

Setelah itu, kerumunan itu berubah menjadi suara-suara yang gaduh. Semua membicarakan tentang keangkuhan dan kekejaman gajah. Mereka merasakan sangat tertekan dan merasa sangat disakiti. Tiba tiba sang raja semut berdiri di atas altar. Seketika itupun suara-suara mereka berhenti. Mereka semua menunduk pertanda menghormat kepada sang raja.
“Rakyatku!. Kita semua memang sedang berada dalam posisi yang sangat sulit. Dan sebelum kita mengambil tindakan apapun. Kita tetap akan menyamakan dulu tujuan dan cara kita. Dan kita sebagai kaum yang sangat solid di dunia ini. jangan sampai terpecah belah. Kita harus tetap menjaga keutuhan kebersamaan kita. Oleh sebab itu sekarang juga aku dan seluruh perwakilan dari koloni semut akan mengadakan rapat. Jika sudah mencapai kesepakatan maka akan segera di beritahukan.”

Setelah itu Raja kemudian memasuki istana kembali. Untuk melakukan rapat mendadak itu. Dan rakyat kini tidak terlalu gaduh. Mereka menikmati hidangan dari kerajaan. Sebagaiamana biasanya. Karena kerajaan semut selalu memberi makan seluruh rakyatnya. Tanpa terkecuali dan tanpa di pilih-pilih. Sang raja sendiri tidak pernah melarang rakyatnya untuk menggunakan fasilitas kerajaan. Karena semua adalah hasil kerja rakyatnya.

Namun demikian, rakyat tidak pernah ada yang bersikap tidak sopan. Rakyat biasanya hanya menggunakan fasilitas seperlunya. Dan rakyat sangat menghormati dan segan kepada rajanya. Bahkan untuk duduk bersanding dengan sang raja saja tidak ada yang berani. Walaupun raja dan tidak pernah melarangnya. Demikia itu adalah rasa hormat rakyatnya, karena raja sangat menyayangi dan memperhatikan seluruh rakyatnya.

Beberapa jam berlalu. Rakyat kini kembali berdiri. Sang raja telah kembali berada di altar yang bisa digunakan untuk memberikan pemberitahuan pada rakyatnya.
“Rakyatku!..Kita sudah mendapatkan cara untuk memberikan pelajaran pada kawanan gajah….”

Raja terus memberikan cara-cara untuk melakukan peringatan keras pada kawanan Gajah. Beberapa pertanyaan di jawab raja dan para penasehat dengan sangat jelas. Dan pada saat itu juga, setelah semua jelas dan tidak ada yang ditanyakan, Semut sebagai kaum pekerja itu segera berangkat menuju kawanan gajah. Semut memang terbiasa bekerja dan berjalan di malam hari. Keseharian mereka memang tidak terlihat letih untuk bekerja. Siang dan malam.

Pagi menjelang. Ditengah keheningan hutan yang mulai beranjak terang. Tiba-tiba kegaduhan terdengar. Raja gajah yang tinggi besar itu mengamuk. Pohon besar yang ada diatara kawanan gajah ditabrak hingga bergetar. Raja gajah itu tersungkur kesakitan.

Gajah yang lain mulai berkerumun. Menyaksikan rajanya yang tergelatek kesakitan karena menabrak pohon besar. Dan tanpa diduga semuanya, raja kemudian bangkit dan kembali mengamuk. Gajah-gajah lain tertabrak. Beberapa diantaranya langsung terjatuh.
“ampuuun!…sakiit…Ampuuun!” Raja gajah itu terdengar berteriak sambil berlari memutar. Pohon dan rerumputan kecil terlindas.

Dan raja gajah itu menabrak batu yang besar. Dia kembali tersungkur. Kepalanya terluka karena terbentur batu yang keras itu. Setelah terlihat tidak bisa berdiri lagi. Kawanan gajah berkumpul mengelilingi rajanya.
“Ada apa rajaku? Siapa yang telah lancang menyakiti kawanan gajah, akan kita hancurkan. Raja siapa yang berani menyakiti itu?” Putra Raja gajah bertanya sambil mengusap kepala raja gajah dengan belalainya.

Raja gajah tidak segera menjawab. Dia telihat tersenggal-senggal bernafas. Karena lelah berlarian. Matanya terlihat meringis menahan sakit karena tekena benturan dengan pohon dan batu besar. Kemudian dia berkata.
“Yang menyakitiku adalah semut”
Mendengar perkataan itu. Spontan semua kawanan saling berpandangan. Beberapa diantaranya ada yang cekikikan menahan tawa. Dan ketika Putra raja tertawa. Semua kawanan mulai tertawa terbahak. Bahkan ada diantaranya yang langsung berguling-guling karna tidak tahan menahan tawa.

Dalam sekejap Raja gajah memaksakan dirinya untuk berdiri. Dan dengan bantuan putra dan beberapa pengawal raja. Kini raja telah berdiri tegap. Semua gajah langsung berhenti tertawa. Meskipun diantaranya masih ada yang menutup mulut mereka dengan belalainya. Karena masih ingin tertawa. Gajah yang tertawa sambil berguling-guling langsung berdiri tegap dengan wajah pucat karena raja melihatnya dengan pandangan yang marah.
“Kalian semua dengarlah! Aku tidak main-main kali ini. Para semut memang bisa menyakiti kita dengan sangat kejam” Raja berkata dengan keseriusan dan wajah yang meringis menahan sakit.
“Raja! Mereka begitu kecil. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa menyakiti kita?” Tanya gajah yang paling depan diantara kerumunan itu. Dia berada tepat di hadapan Raja gajah yang masih terlihat meringis sambil mengibas-ngibaskan daun telinganya yang lebar.
“Kita harus membalasnya! Kita bisa menghancurkan sarang dan seluruh penghuni di dalamnya raja. Kenapa kita tidak cepat bertindak?” gajah yang berada di samping Raja berkata sambil menghentakkan kakinya. Dia marah sekali kepada semut. Kemudian gajah yang lain mengangguk sambil bergumam “ya! Kita harus membalasnya”.

Suasana menjadi gaduh karena obrolan para gajah yang merasa kesal dengan tingkah semut itu. Hingga obrolan mereka terhenti karena raja gajah berkata setengah teriak.
“Jangan ceroboh. Sebelum semut-semut itu menyakitiku tadi pagi. Raja semut telah memperingatkan. Dan kalian harus tau mereka kini berada dalam telingaku. Dan telinga kalian semua telah berisi semut yang sejak malam telah bergerak memasuki telinga kita. Dan malam nanti secara serempak mereka akan menyakiti kita semua. Menyiksa kita karena kita telah melukai mereka kemarin siang. Ini adalah pembalasan mereka”

Mendengar perkataan raja tersebut. Para gajah langsung panik. Mereka terlihat sibuk saling melihat telinga temannya yang ada di samping mereka. Dan ternyata benar semua telinga mereka telah di isi semut dari berbagai jenis.
“Raja! Bagaimana kita bisa mengeluarkan mereka dari telinga kami?” Tanya gajah yang ada di hadapan raja dengan panik.
“Tidak ada. Karena yang aku tau, semut sangat gigih dan kuat. Bahkan mereka lebih baik mati daripada melepaskan gigitannya. Itulah yang aku tau dari dulu. Semut itu memiliki kekuatan dan keteguhan di hati yang sangat tangguh”
“Jadi apa yang bisa kita lakukan?”
“sebelum mereka menyakitiku. Mereka juga telah mengatakan bahwa keinginan mereka adalah saling menghargai dan peduli terhadap sesama penghuni hutan. Dan ancaman itu tidak aku tanggapi hingga mereka menyakitiku. Awalnya aku juga tertawa, karena kekuatan kita memang jauh dibanding mereka. Karena kita lebih kuat dari mereka. Tapi semuanya itu salah, meskipun kita kuat, ternyata kekuatan itu tidak selamanya bisa membuat kita terlindungi. Bahkan kita bisa disakiti oleh kekuatan kecil dari semut-semut itu”

Mendengar perkataan raja. Semua gajah langsung tertunduk. Mereka menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan. Mereka ternyata bisa dikalahkan oleh kekuatan semut yang sangat kecil itu. Melihat semua terdiam, kemudian raja mulai berbicara lagi.
“Saat ini yang bisa kita lakukah adalah mencoba memahami diri kita sendiri. Bahwa kita memang selama ini telah begitu angkuh dan terlalu sombong dengan kekuatan kita. Singa sang raja hutan saja memang tidak pernah berani menggangu kawanan kita. Tapi hari ini. kita telah dikalahkan oleh kekuatan semut. Ini memang memalukan. Tapi kita tidak akan mendapatkan perlakuan ini jika kita menghargai kekuatan kecil mereka sejak dulu…”

Tiba-tiba Raja terdiam. Dia seolah mendengatkan sesuatu. Dan dengan gerakannya sang raja menyuruh semua kawanan untuk diam. Raja mengernyitkan dahinya, dia terlihat sangat konsentrasi.

Beberapa saat itu dilakukan Raja. Dan sepertinya raja sedang mendengarkan kata-kata dari raja semut yang ada di telinganya. Dan kemudian Raja mengeluarkan suara suara yang tidak bisa dipahami oleh gajah yang lainnya. Para gajah hanya diam dia melihat rajanya yang mengeluarkan suara aneh itu. Setelah itu kemudian raja berhenti dan dia mulai berbicara seperti biasa lagi.
“Rakyatku. Bersiaplah! Tadi adalah bahasa isyarat untuk para semut yang ada di lubang telinga kalian. Dan sekarang mereka akan keluar dari telinga kalian semua. Mereka memang tidak ingin menyakiti kita. Mereka hanya ingin menyadarkan bahwa tidak ada yang paling kuat sehingga melupakan mahluk yang lainnya”

Mendengar perkataan raja. Para gajah terdiam. Mereka kini merasakan dari telinga mereka kelar semut-semut kecil  yang berbondong  bondong. Para gajah melihat semut keluar di telinga kewannya satu persatu. Barisan panjang itu kemudian terlihat berjalan menuju ke sebelah

Setelah kejadian tersebut. Para kawanan gajah tidak pernah lagi merasa dirinya paling kuat. Sehingga dia tidak pernah menyepelekan kekuatan kekuatan kecil seperti semut dan binatang yang lainnya. Karena memang mereka menyadari. Tidak ada kekuatan yang paling sempurna. Kekuatan besar itu pasti akan ada yang mengalahkan. Bahkan kekuatan mereka yang besar pun bisa dikalahkan oleh kekuatan kebersamaan koloni semut. Sejak itu mereka hidup berdampingan dan tidak pernah saling mengganggu.


Dongeng Petani Yang Baik Hati

Dongeng Petani yang Baik Hati

Di suatu desa, hiduplah seorang petani yang sudah tua. Petani ini hidup seorang diri dan sangat miskin, pakaiannya penuh dengan tambalan dan rumahnya terbuat dari gubuk kayu. Musim dingin sudah tiba, Pak Petani tidak punya makanan , juga tidak mempunyai kayu bakar untuk menghangatkan diri, jadi hari ini Pak Petani hendak pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan. Ketika keluar dari rumah, dilihatnya ada sebutir telur tergeletak diatas tanah bersalju.

Dengan hati-hati dipungutnya telur tersebut dan dibawanya ke dalam rumah. Pak Petani menyelimuti telur itu dengan kain lusuh dan meletakkannya di dalam kardus agar tetap hangat. Setelah itu dia pergi ke pasar untuk bekerja.

Pak Petani membuat telur itu menjadi hangat setiap hari sampai telur itu menetas. Ternyata telur itu adalah telur Burung  Camar, mungkin induknya menjatuhkannya ketika hendak pindah ke tempat yang lebih hangat. Pak Petani merawat Burung Camar kecil itu dengan penuh kasih sayang. Dia selalu membagi setiap makanan yang diperolehnya dari bekerja di pasar. Ketika harus meninggalkan Burung Camar itu sendirian, Pak Petani akan meletakkannya di dalam kardus dan menyalakan perapian agar Burung Camar tetap hangat.

Hari-hari berlalu, Burung camar kecil tumbuh semakin besar. Pak Petani sadar, Burung Camar ini tidak selamanya akan tinggal bersama dirinya. Dengan berlinang air mata, Pak Petani melepaskan Burung Camar itu agar pergi ke selatan, ke tempat yang hangat.

Suatu hari, Pak Petani terbaring sakit karena kedinginan, dia tidak punya uang untuk membeli obat, kayu bakar dan makanan.
Tok..tok..tok., terdengar suara dari pintu rumah Pak Petani.
Ternyata Burung Camar itu kembali, diparuhnya terdapat benih tanaman.

Pak Petani heran Burung Camar itu masih mengingatnya, dibiarkannya Burung Camar itu masuk dan memberinya minum. Sambil memandang benih yang dibawa oleh burung Camar, Pak Petani bertanya-tanya benih apakah ini ? dapatkah aku menanamnya di tengah musim dingin ini ? tanyanya dalam hati.
Burung Camar keluar dari rumah Pak Petani, membuat lubang di halaman rumah Pak Petani lalu menanam benih itu . Ketika hari menjelang senja Burung Camar itu pergi meninggalkan Pak Petani.

Esok harinya, keajaiban terjadi, benih yang ditanam Burung Camar tumbuh menjadi Pohon lengkap dengan buahnya hanya dalam sehari !!!! Pak Petani sangat terkejut melihatnya.
Karena lapar, Pak Petani memakan buah pohon itu. Ajaib, tubuhnya menjadi kuat dan dia tidak merasa sakit. Karena Keajaibannya, Pak Petani menamakan Pohon itu Pohon Dewa, karena buahnya dapat membuat Pak Petani menjadi sehat kembali.

Pak Petani merawat pohon itu dengan baik. Meskipun musim dingin, pohon itu terus berbuah dan tidak menjadi kering. Pak Petani menjual buah itu dan mendapatkan banyak uang.
Sekarang Pak Petani tidak lagi kedinginan dan kelaparan. Meskipun demikian , Pak Petani tetap murah hati, dia ingat bahwa apa yang diterimanya sekarang adalah buah dari ketulusannya menolong sesama makhluk hidup.


Dongeng Princess Rapunzel

Dongeng Princess Rapunzel
Dahulu kala hiduplah sepasang suami-istri tanpa anak yang tinggal di sebelah taman yang ditutupin oleh tembok besar yang dimiliki oleh seorang penyihir. Suami istri tersebut hidup sangatlah sederhana, mereka tidak mengingikan harta yang berlimpah atau pun makanan yang enak, mereka hanya menginginkan seorang anak hadir didalam kehidupan keluarga sederhana ini. Setelah penantian yang lama, akhirnya sang istri hamil. Ketika sang istri berjalan jalan di sekitar rumah penyihir, Si istri ini melihat bunga rapunzel yang tumbuh indah di taman rumah si penyihir dan sang istri saat itu sangat menginginkan bunga rapunzel tersebut. Sang suami jelas menuruti permintaan sang istri tersebut.

Maka dari itu ketika malam hari ia manyelinap ke dalam taman si penyihir untuk mengambil bunga rapunzel yang indah tersebut. Malam pertama sang suami pun berhasil mengambil bunga rapunzel tanpa sepengetahuan penyihir, malam kedua pun sang suami berhasil lagi mendapatkan setangkai bunga rapunzel dari taman penyihir itu. Namun pada malam ketiga, ketika ia baru selesai mengambil setangkai bunga rapunzel dan ingin membawanya pulang kerumah dari taman si penyihir, tiba tiba sang pemilik taman pun datang, si penyihir melihat bunga rapunzel peliharaannya di curi oleh seseorang.

Sang suami memohon belas kasihan kepada sang penyihir untuk memaafkannya, si penyihir setuju untuk mengampuni si suami dengan satu syarat. Syaratnya yaitu anak yang ada didalam kandungan istrinya harus diserahkan kepadanya begitu anak itu lahir. Karena sudah putus asa dan ketakutan, si suami pun setuju dengan syarat yang di ajukan oleh sang penyihir. Pulanglah sang ayah kerumah dan memberikan setangkai bunga rapunzel itu, namun ia tidak menceritakan kejadian yang barusan ia alami saat mengambil bunga rapunzel tersebut

Beberapa hari kemudian ternyata si istri melahirkan seorang bayi perempuan, keluarga kecil itu pun sangat bahagia, namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena tak beberapa lama bemudian si penyihir pun datang dan langsung mengambil bayi yang baru saja lahir tersebut dan membawanya ke tempat tinggalnya. Sang istri sangat sedih karena anak yang selama ini diharap harap kan diambil begitu saja oleh sang penyihir tersebut, sang suami tak bisa melakukan apa apa.

Setelah sang bayi dibawa kerumah sang penyihir, sang bayi pun dirawat oleh si penyihir. Penyihir itu memberi nama bayi itu rapunzel, sesuai dengan nama bunga yg waktu itu di curi oleh ayah si rapunzel.
ketika si rapunzel berumur 18 tahun, Rapunzel tumbuh sebagai gadis yang cantik dan mempunyai rambut berwarna emas yang sangat indah. si penyihir memindahkan dan mengurungnya kedalam sebuah menara ditengah hutan tanpa tangga, tanpa pintu dan amat sangat tinggi, dan hanya terdapat 1 kamar, dan satu jendela di menara itu. Kalau si penyihir ingin naik ke atas menara untuk menemui rapunzel, ia akan berdiri dibawah menara dan memanggil rapunzel lalu berteriak “rapunzel, rapunzel, julurkan rambutmu ke bawah agar aku bisa naik ke atas lewat rambut emas mu itu..

Ketika rapunzel sudah mendengar kalimat itu ia langsung melilitkan rambut emasnya yang panjang ke sebuah pengait yang terletak di sebelah jendela yg sengaja di buat penyihir untuk memudahkan rapunzel mengangkat si penyihir untuk naik ke atas menara. ada si. Biasanya si penyihir akan memanjat ke atas menggunakan rambut rapunzel itu.

Disuatu pagi yang cerah seorang pangeran yang sedang berburu rusa di tengah hutan, ia mendengar suara perempuan yang sedang bernyanyi. Karena sang pangeran tertarik dengan suara merdunya, si pangeran akhirnya mencari dari mana asal suara merdu itu, setelah lama ia berjalan bersama kudanya, ia menemukan sebuah menara yang sangat tinggi,  ternyata memang benar suara merdu itu berasal dari atas menara yang sangat tinggi itu, ia ingin sekali naik ke atas menara tinggi itu namun apa daya saat ia mengelilingi menara ia tidak dapat menemukan tangga atau alat semacamnya untuk naik ke atas sana. Namun sang pangeran tidak putus asa. Dan tetap mencari cara bagaimana ia bisa naik ke atas menarang yang tinggi itu.

Hari hari berikutnya sang pangeran lebih sering mendatangi menara tersebut karena ia makin penasaran siapakah gerangan wanita yang ada diatas menara yg berada ditengah hutan yg tak berpenghuni ini, dan pada suatu saat di penyihir datang untuk menemui rapunzel. Sang pangeran pun tau sekarang bagai mana caranya ia bisa masuk ke dalam menara itu.Waktu si penyihir pergi, si pangeran meminta rapunzel untuk menjulurkan  rambut emasnya ke bawah, dan kemudian si pangeran memanjat seca ra perlahan ketika sampai dimenara, sang rapunzel terkejut karena bukan penyihir yang datang menemuinya melaikan orang asing. Si penyihir bilang bahwa rapunzel dilarang menerima orang asing masuk kedalam menara itu. Namun sang pangeran menenangkan rapunzel. Mereka akhirnya mulai akrab satu sama lain.

Rapunzel dan pangeran awalnya hanya berteman, namun lama kelamaan mereka saling jatuh cinta, sang pangeran pun akhirnya melamar si rapunzel dan rapunzel bersedia untuk menikah dengannya. Setelah rapunzel mengiyakan lamaran sang pangeran, mereka ber2 menyusun rencana untuk bagaimana caranya iya keluar dari menara itu setiap malam sang pangeran sengaja datang untung membawakan kain sutra sebagai alat untuk rapunzel turun dari menara itu.

Belum rencana yang selama ini di rancang oleh rapunzel dan pangeran, dengan polosnya rapunzel bertanya ke pada sang penyihir ketika sang penyihir datang untuk menemuinya mengapa gaun2 yang ada di lemari semakin sesak saja dibagian perut.nya. sang penyihirpun murka karna tau si rapunzel hamil, penyihir akhirnya menghukum rapunzel, penyihir memotong rambut rapunzel dan membuangnya ke alam liar.

Keesokan harinya pangeran datang untuk menjemput rapunzel untuk tinggal di istana, ktika sang pangeran memanggil rapunzel dan rambut rapunzel diturunkan ketika yang pangeran sampai di atas ia terkejut, ternyata bukan rapunzel yang ada di dalam menara melaikan si penyihir, si penyihir pun lalu mendorong sang pangeran sampai terjatuh di semak semak berduri dan membuat mata sang pangeran buta
Sudah beberapa hari sang pangeran berjalan tanpa tujuan. Di lain tempat rapunzel akhirnya melahirkan 2 anak kembar lelaki dan perempuan,

Suatu hari ketika si rapunzel sedang menimba air, ia meliahat sang pangeran datang sempoyongan dari arah hutan dan terjatuh, si rapunzel pun menghampirinsi pangeran dan terkejut dangan keadaan sang pangeran, rapunzel pun menangis, dan air mataya itu dapat menyembuhkan mata sang pangeran. Mereka salng berpelukan dan akhirnya sang pangeran memboyong rapunzel dan ke 2 anaknya ke istana dan hidup menjadi keluarga yang bahagia.

Dongeng legenda asal usul banyuwangi

Dongeng Legenda Asal Usul Banyuwangi


Legenda : Jawa
Di suatu masa yang telah lampau, di ujung timur Pulau Jawa ada sebuah kerajaan. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Blambangan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang arif bijaksana.

Sang raja mempunyai seorang anak laki-laki dari istri permaisurinya yang cantik jelita. Karena hanya dia saja yang merupakan anak lelaki sang raja, maka secara otomatis dia diangkat sebagai putra mahkota. Nama putra mahkota sang raja tersebut adalah Raden Banterang.

Raden Banterang merupakan sosok pemuda yang gagah dan tampan. Selain memiliki wajah yang tampan dia juga dikarunia keahlian bela diri yang cukup mumpuni, Sang pangeran mempunyai hobi berburu. Dalam berburu tak jarang dia melakukannya seorang diri tanpa pengawalan dari pasukan istana.

Pada suatu masa, Kerajaan Blambangan terlibat perselisihan dengan Kerajaan Klungkungi di Bali. Karena jalan damai tidak mampu menyelesaikan masalah, maka Raja Blambangan mengirimkan pasukannya untuk menyerang kerajaan di seberangnya tersebut. Raden Banterang ditunjuk sebagai panglima perang oleh ayahnya. Dalam waktu singkat Kerajaan Klungkung berhasil dikalahkan oleh pasukan Blambangan yang dipimpin Oleh Banterang. Putra raja Klungkung yang bernama Rupaksa dan adik perempuannya yang bernama Surati melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Sementara sang Raja Klungkung gugur dalam pertempuran itu.

Saat tiba di suatu hutan, Rupaksa meminta adiknya untuk menunggunya di situ sebentar. Dia mau berburu untuk makan mereka. Saat berburu itulah Rupaksa jatuh terperosok ke dalam jurang. Sedangkan Surati yang menunggu terlalu lama akhirnya berusaha mencari kakaknya sambil terus berjalan ke arah barat. Di sisi lain hutan, nampak seorang pemuda gagah sedang berburu. Dalam perburuannya itu dia mengejar seekor kijang. Akan tetapi kijang tersebut akhirnya menghilang di dekat sebuah sungai. Saat sedang mencari kijang tersebut, mata sang pangeran terbelalak melihat ada wanita cantik yang sedang mandi di sungai.

Antara percaya dan tidak sang pemuda yang tak lain adalah Raden Banterang tersebut menghampiri wanita tersebut. Apakah kau ini manusia ataukah mahluk halus penunggu hutan ini? tanya Raden Banterang. “Saya manusia tuan. Nama saya Surati, jawab sang wanita tersebut. Saya Banterang. Maukah kamu ikut aku pulang ke rumahku?” “Terima kasih tuan. Kebetulan saya hidup sebatang kara tuan. Keluarga saya meninggal dalam perang.” jawab Surati.

Akhirnya Surati dan Banterang pun pulang ke keraton tempat tinggal Banterang. Setelah beberapa lama api cinta timbul di antara mereka. Dengan restu dari sang raja, Banterang akhirnya menikahi Surati.

Waktu terus berganti. Suatu waktu Raden Banterang pamit berburu kepada istrinya. Saat Raden Banterang sedang berburu tersebut, Surati didatangi Rupaksa kakak kandungnya di dalam kaputren kerajaan. Saat itulah Rupaksa menceritakan siapa sebenarnya Banterang.

Surati, setelah aku cerita siapa sebenarnya suamimu, maukah kamu membantu aku untuk membalas dendam terhadap suamimu? tanya Rupaksa. Tidak mungkin kanda. Bagaimanapun kangmas Banterang sudah menjadi suamiku. Tak mungkin aku membunuhnya saat ini. jawab Surati. Kenapa?” Aku mencintainya kanda.” Baiklah kalau kamu tidak mau membantu aku membunuhnya. Simpan ikat kepalaku ini di bawah tempat tidurmu ya. Anggap sebagai kenang-kenangan kakakmu ini. kata Rupaksa sambil menyerahkan ikat kepalanya kepada Surati.

Sementara di hutan tempat biasa Banterang berburu, sang putra mahkota tersebut terus asyik berburu. Saat itulah Banterang ditemui lelaki misterius yang tak lain adalah Rupaksa, kakak kandung Surati istrinya.

Tuanku maaf hamba mengganggu kesenangan tuan berburu sapa  Rupaksa. Ada apa kisanak? Tuanku, istri tuan merencanakan untuk membunuh tuan. Istri tuan ternyata putri Raja Klungkung yang telah Tuan kalahkan beberapa waktu yang lalu. kata Rupaksa. Apa buktinya jika dia berencana membunuhku? Tuan cari di bawah tempat tidur tuanku. Jika tuanku menemukan ikat kepala lelaki, maka itu adalah ikat kepala lelaki yang dimintai tolong tuan putri Surati untuk membunuh Tuanku Banterang. kata Rupaksa mencoba meyakinkan.

Banterang termenung mendengar kata-kata tersebut. Saat melihat hal itu Rupaksa segera pergi menghilang, karena yakin Banterang telah termakan oleh fitnahannya terhadap istri Banterang yang tak lain adik kandungnya sendiri. Saat Banterang mau mengucapkan terima kasih atas laporan Rupaksa tersebut, dia tersentak mendapati Rupaksa telah pergi tanpa dia ketahui. Segera Banterang pulang ke istananya.

Sesampainya di istana, dia menggeledah bagian bawah ranjangnya. Saat itulah dia menemukan ikat kepala seperti yang Rupaksa katakan. Api amarah langsung membakar jiwanya. Bergegas dia mencari istrinya yang sedang bercengkerama dengan para dayangnya.

Istriku ikut aku sekarang! Kata Banterang yang menarik tangan istrinya dengan kasarnya. Jiwanya yang telah dibakar amarah tak lagi bisa bersikap lembut terhadap wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri. Sementara Surati mengikuti suaminya tersebut dengan beragam tanya di benaknya. Sesampainya di tepian suatu sungai yang lebar dan berair jernih, Banterang menghentikan langkahnya. Segera Banterang mengeluarkan ikat kepala yang ditemukannya di bawah ranjang tidurnya. Surati, apa maksud dari semua ini? Tanya Banterang sambil melemparkan ikat kepala milik Rupaksa kehadapan Surati istrinya. Kanda, ini adalah ikat kepala milik kakak hamba Kanda. Bukannya itu milik laki-laki yang akan membunuhku sesuai perintahmu? Bukan Kanda. Beberapa hari yang lalu kakak hamba datang kemari. Dia cerita kalau Kandalah yang telah membunuh ayahanda hamba raja Klungkung. Dia meminta bantuan hamba untuk membunuh Kanda. Tapi hamba tidak mau Kanda. Setelah itu dia memberikan ini untuk kenang-kenangan. Surati coba menjelaskan.

Aku tidak percaya denganmu. Baik kalau Kanda tidak percaya pada hamba, bunuhlah hamba Kanda. Tapi ingat Kanda, jika nanti air ini berbau harum maka hamba tidak bersalah. Tapi jika air sungai ini berbau amis, hambalah yang bersalah. kata Surati.

Banterang segera menghunus keris yang terselip di punggungnya. Belum sempat keris itu menghunjam dada Surati, segera Surati melompat ke sungai tersebut. Tak lama kemudian tubuh Surati tenggelam ke dalam sungai. Berbarengan dengan itu tiba-tiba dari air sungai itu tercium bau harum mewangi.

Banterang yang mencium bau itu sontak menangis tersedu-sedu. Da menyesal kemarahannya yang membabi buta telah menyebabkan kematian istrinya yang tercinta. Beberapa kali lidahnya mendesis menyebutkan kata Banyune wangi… Banyune wangi… Banyune wangi. Berdasar kejadian itulah, akhirnya nama daerah tersebut berganti menjadi BANYUWANGI yang berarti air yang harum.

Dongeng Monyet yang sombong dan kura kura yang rendah hati

Dongeng Monyet yang sombong dan kura kura yang rendah hati

  Kabar burung elang cepat tersiar. Bahwa kancil kalah balapan lari sama kura-kura! Kabar ini terdengar juga oleh monyet. Masa, kancil kalah balap lari sama kura-kura? Aku lebih pintar dari kancil ! Apalagi kura-kura! Monyet  pun bertekad untuk mencoba mengadu kepandaian dengan kura-kura. Aku akan menantang kura-kura berlomba menanam pisang. Pohon pisang siapa yang lebih cepat berbuah. Aku sudah tahu caranya!

Di pagi yang cerah, di pinggir sungai, seekor kura-kura sedang asyik melihat para petani sedang menanam padi, ada juga yang sedang menanam pisang, jagung dan kacang panjang.

Datanglah seekor monyet yang ingin menjajal kepandaian kura-kura.

Hai kura-kura, mari kita berlomba menanam pisang. Pohon pisang siapa nanti yang duluan berbuah!

Untuk apa kita berlomba menanam pisang? Aku belum bisa dan belum pernah menanam pisang, jawab kura-kura.

Katanya kamu menang balapan lari sama kancil? Sekarang mari kita berlomba menanam pisang! Pokoknya kalau kamu kalah, kamu tidak boleh lagi muncul ke darat! Kamu hanya boleh hidup di dalam sungai. Aku tidak akan kalah seperti kancil! Aku lebih pandai dari Kancil. Bagaimana kura-kura, berani? Monyet menantang kura-kura dengan sombongnya.

Baiklah kalau begitu, besok kita mulai. Tuh disitu ada lahan kosong punya pak tani, jawab kura-kura.

Maka keesokan harinya seekor kura-kura dan seekor monyet kelihatan sedang sibuk membuat lubang untuk ditanami pisang. Kura-kura menanam pohon pisang yang masih kecil, meniru pak tani yang dilihatnya waktu menanam pisang. Anehnya yang ditanam monyet bukan pohonnya, tetapi jantung pisangnya!

Sudah selesai kura-kura? Kok lama sekali? Hahahahaha... menanamnya saja lama, kapan berbuahnya? Monyet mentertawakan kura-kura, mengejek.

Lihat saja nanti! jawab kura-kura sambil terus menimbun lubang yang sudah ada pohon pisangnya.

Setelah selesai menanam jantung pisangnya, monyet ngeloyor pergi meninggalkan kura-kura yang masih belum selesai merapihkan tanaman pohon pisangnya. Monyet merasa bahwa dia pasti akan menang.

Sehari, dua hari, hampir tiap hari monyet dan kura-kura melihat tanaman pisang mereka. Monyet merasa yakin sekali bahwa tanaman pisangnya yang akan cepat berbuah. Monyet berpikir  bahwa buah pisang keluar dari jantung pisang, kenapa harus pohonnya yang ditanam? Kalau langsung jantungnya yang ditanam,  berarti akan lebih cepat keluar buahnya. Monyet lupa bahwa jantung pisang keluar dari pohon pisang!

Hampir tiap hari monyet mengejek kura-kura yang rajin menyirami pohon pisangnya, menyiangi rumput-rumput yang tumbuh di sekitarnya, menggemburkan tanahnya. Disekelilingnya dipagari bambu. Sedangkan monyet hanya duduk bermalas-malasan saja sambil melihat kura-kura yang sedang rajin bekerja.

Tiga minggu telah berlalu.

Kura-kura? tanya monyet

Kuk!” jawab kura-kura

Bagaimana tanaman pisangmu?” tanya monyet lagi.

Sudah tumbuh daun baru empat lembar, tingginya tambah satu meter. Bagaimana punya kamu? jawab kura-kura.

“Masih jatung, tambah eot ae! jawab monyet (masih jantung tambah peot bae, bahasa sunda), artinya masih berupa jantung tambah kurus saja.

Begitulah tanya jawab monyet dan kura-kura tiap hari. Biasanya monyet yang bertanya duluan, dijawab oleh kura-kura “Kuk”. Dan kalau kura-kura bertanya, dijawab oleh monyet “Masih jatung, tambah eot ae!”

Satu bulan, dua bulan,

Dan keluarlah jantung pisang di antara daun-daun pisang, pohon pisang punya kura-kura. Sedangkan jantung pisang yang di tanam monyet malah tambah kurus, layu dan membusuk!

Kura-kura? tanya monyet.

Kuk! jawab kura-kura.

Bagaimana tanaman pisangmu?

Sudah keluar jantungnya, sebentar lagi berbuah. Bagaimana punya kamu? jawab kura-kura balik bertanya kepada monyet.

Monyet tidak langsung menjawab pertanyaan kura-kura. Mungkin malu atau apa,  dia ngeloyor pergi meninggalkan kura-kura.

Kura-kura kamu memang pandai. Aku terima kalah, dan kamu boleh hidup di darat.

Kura-kura tidak berkata apa-apa, matanya berkaca-kaca mau menangis.

Terima kasih Tuhan. Engkau telah menolong aku! ucap kura-kura sambil menangis.

Dongeng kakek batu

Dongeng kakek batu
Sang adik pergi ke gunung mencari tanah untuk dijadikan ladang. ia menemukan tanah yang diinginkannya dan mulai mencangkul di dekat sebuah batu besar.

Pemuda itu beristirahat dan duduk di samping batu besar. Dilihatnya batu itu berbentuk seperti seorang kakek tua.

Saat itu matahari mulai muncul setelah hujan berhenti. Pemuda itu berkata kepada batu besar, ”Selamat siang, kakek batu. Tolong kau jaga mantel  hujanku yang berharga ini.”

Sore itu, pemuda itu berhenti bekerja dan mulai berbicara dengan batu itu seolah-olah mereka sahabat lama.

”Andai aku sekuat dirimu, kek,” katanya. ”Aku pasti tak pernah merasa lelah.” Pemuda itu bekerja di sana tiap hari.

Pada suatu hari ia sedang beristirahat dan seperti biasa, berbicara kepada kakek batu tentang betapa ia merasa lelah dan kepanasan.

Tiba-tiba, ”Anak muda,” batu besar itu berbicara kepadanya! ”Dengarkan. Kau mengeluh lelah dan panas? Tiap hari kau meletakkan mantel hujanmu ini di kepalaku. Mantel itu membuatku kepanasan dan gatal-gatal. Belum lagi terasa berat sekali di kepalaku.”

”Ambillah mantelmu dan aku akan memberimu hadiah.”
”Maaf, kek,” kata pemuda itu sambil memindahkan mantel hujannya dari atas batu.
”Kek.” kata pemuda itu setelah beberapa saat, ”Tadi kau mengatakan akan memberiku hadiah?”
”Aku memang berkata begitu,” kata batu. ”Besok datanglah kemari membawa karung yang panjangnya tiga kaki.

Esoknya pemuda itu membawa karung sepanjang tiga kaki.

”Buka karung itu,” kata batu.

Pemuda itu membuka mulut karung. Batu itu membuka mulutnya dan keluarlah ratusan koin perak berkilauan, masuk ke dalam karung. Tak lama, karung itu penuh.

”Bagaimana?” kata batu besar. ”Cukup?”
”Oooh, banyak sekali, kek,” kata pemuda itu senang. ”Bahkan terlalu banyak untukku. Terima kasih, kek.”
”Terlalu banyak?” kakek batu tertawa. ”Tak banyak orang yang mengatakan terlalu banyak.”
”Pergilah, bawa uang itu. Belilah rumah untuk dirimu. Kau pekerja keras, kau berhak mendapatkan uang itu.”

Pemuda itu mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berpamitan dan pergi. Ia kembali ke desanya. Tak lama kemudian kakaknya mendengar bahwa sang adik pulang sebagai orang kaya.

”Bagaimana kau bisa menjadi kaya raya, dik?” tanyanya.

Adiknya menceritakan semuanya.

”Di mana batu itu?” tanya sang kakak lagi.

”Kalau kau terus mengikuti jalan ini menuju pegunungan, kau akan menemukan sebidang tanah kosong yang luas. Batu itu ada di tengah tanah kosong itu.”

”Kau pasti dapat menemukannya, kak.”

Sang kakak segera mengambil mantel hujan dan cangkulnya sendiri. ia pergi mencari batu besar yang telah membuat adiknya kaya. Ia segera menemukan batu besar itu. ia meletakkan mantel hujannya di atas batu besar dan mulai mencangkul.

Setelah mencangkul sepanjang hari, ia duduk di sebelah batu besar dan berbicara kepadanya. ”Apa kabar, kakek batu,” katanya. ”Apakah hari ini cukup hangat untukmu?”

Tidak ada jawaban.

”Hai, kau dengar tidak, batu?”

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Sepanjang siang sang kakak mengajak batu  besar itu berbicara, tapi batu itu diam saja.

”Aku dapat memaksamu bicara, batu tua!” katanya dalam hati.

Ia meletakkan batu-batu kecil di atas batu besar itu. Makin lama makin banyak batu yang ditumpuknya  sampai batu besar itu tidak kelihatan.

”Singkirkan batu-batu ini,” teriak kakek batu. ”Aku akan memberimu hadiah.”

Petani itu segera memindahkan batu-batu kecil dari batu besar.

”Datanglah besok, bawa karung sepanjang tiga kaki.” kata batu besar. ”Aku akan mengisinya dengan uang perak.”

Matahari baru terbit ketika sang kakak datang membawa karung esok harinya.

”Baiklah,” kata batu besar. ”Buka karungmu.”

Batu itu membuka mulut dan mengeluarkan uang perak sampai karung hampir penuh.

”Bagaimana?” tanya batu besar. ”Sudah cukup, bukan?”
”Tidak,” kata laki-laki serakah itu. ”Tambahkan lagi.”
”Baiklah.” kata batu itu. Uang logam keluar lebih banyak lagi sampai karung hampir robek.
”Sudah cukup, sekarang?”
”Lagi! Tambahkan lagi!” kata sang kakak.
” Maaf, anak muda.” kata batu itu. ”Aku sudah tak punya uang lagi,”

Sang kakak berteriak, ”Pasti masih ada uang lagi.” Ia memasukkan kedua tangannya ke mulut batu, untuk mengambil uang lagi.

Mulut batu itu menutup dan tangan petani terjepit, tidak dapat dikeluarkan dari batu.

”Batu tua, lepaskan tanganku!” Ia melompat-lompat, menendang, menarik tangannya. Batu itu tetap diam saja, tak bergerak sedikitpun.

”Kumohon, lepaskan tanganku!” Batu itu tetap diam saja.

Malam tiba. Hujan lebat turun sampai tempat itu digenangi air. Karung berisi uang perak hanyut terbawa banjir.

Pada hari yang ketiga, isteri petani itu datang mencarinya. Ia menangis melihat tangan suaminya terjebak di dalam batu.

”Jangan hanya menangis.” kata suaminya. ”Lepaskan aku dari batu ini.”

Tapi apa apa yang dilakukan sang isteri, tidak dapat melepaskannya. Sejak saat itu, tiap hari sang isteri datang membawakan makanan dan menyuapinya.

Petani itu terjebak selama tiga tahun. Tiap hari ia kepanasan dan kedinginan pada malam hari. Ia juga sering basah kuyup diguyur hujan.

Kemudian, pada suatu hari, isterinya datang untuk mengantarkan makanan. Lelaki itu mengoceh. ”Tiga tahun sudah aku berdiri di sini, kehujanan dan kepanasan. Aku sudah tak tahan lagi. Aku akan memotong tanganku saja.”

Tiba-tiba batu besar itu bergetar. dan mulai tertawa. Kemudian mulutnya terbuka lebar dan ia tertawa terbahak-bahak.

Petani serakah itu terjatuh ke tanah. Ia bebas sekarang. Cepat-cepat diajaknya sang isteri pergi dari tempat itu dan  tidak pernah kembali lagi.

Dongeng Princess Belle "Beauty And The Beast"

Dongeng Princess Belle *Beauty And The Beast*
Pada suatu zaman dahulu kala hiduplah seorang pria tua yang buruk rupa yang bernama Mike.Wajahnya yang buruk membuat semua orang takut untuk mendekatinya sehingga ia diasingkn ke sebuah hutan. Sebenarnya wajah buruk yang dimilikinya bukanlah wajah aslinya melainkan dikutuk oleh seorang peri yang bernama Zerre yang hanya bisa musnah apabila ada seorang gadis yang mencintainya dengan setulus hati.

Pada suatu malam terjadilah hujan angin yang menyababkan seorang laki-laki tua tidak bisa kembali pulang ke rumahnya, kemudian ditengah hutan belantara ia melihat kastil si buruk rupa, ia mendekati kastil itu dan masuk Setelah ia masuk ia terkejut melihat makanan sudah terhidang di meja makan,tempat tidur sudah tertata rapi dan air hangat untuk mandi sudah tersedia. Tanpa rasa ragu ia menggunakan semua peralatan yang tersedia di dalam kastil itu, keesokan harinya ia terbangun dan kembali pulang ke rumahnya tetapi sebelum ia pulang, ia memetik setangkai mawar yang akan ia berikan kepada putrinya. Tanpa ia sangka si buruk rupa marah besar padanya dan mengatakan bapak tua itu akan di bunuh apabila ia tidak membawa seorang putri untuknya sebagai penggantinya.

Dengan perasaan yang tidak enak bapak tua itu memasuki rumahnya, ketiga putri bapak tua itu menyambutnya dengan riang gembira akan tetapi melihat raut wajah bapaknya anak-anaknya merasa sedih. Putrinya yang paling bungsu bertanya ”apakah yang terjadi pada engkau bapak?”, dengan perasaan terpaksa si bapak menceritakan kejadian yang ia alami kepada ketiga anaknya. Si bapak bertanya kepada ketiga putrinya” nak' menurut kalian bagaimana solusi dari masalah ini!”

Putri sulungnya berkata” bagaimana kalau si bungsu saja yang menggantikan bapak karena menurut kami berdua dialah orang yang paling tepat. Dengan perasaan pasrah si bungsu menyetujuinya. Keesokan harinya si bungsu menuju kastil si buruk rupa. Sesampainya disana si bungsu di sambut dengan ramah oleh si buruk rupa, si bungsu merasa sangat ketakutan melihat wajah si buruk rupa.

Hari demi hari telah ia lalui bersama si buruk rupa hingga rasa takut yang dulu ia rasakan berubah menjadi rasa sayang. Pada suatu malam yang sunyi si bungsu mendapat mimpi buruk, dalam mimpinya ia bertemu dengan seorang peri yang memberitahukan bahwa kesehatan bapaknya terganggu, tanpa ragu si bungsu menceritakan mimpinya itu pada si buruk rupa dan si bungsu ingin menjenguk bapaknya. Setalah lama berfikir akhirnya si buruk rupa mengizinkan si bungsu pulang untuk menjenguk bapaknya yang sakit dengan syarat si bungsu hanya boleh menemui bapaknya tidak lebih dari satu minggu apabila dilanggar maka si buruk rupa akan mati. Si buruk rupa maemberikan sebuah cincin kepada si bungsu dan si buruk rupa berkata ” sekarang kau tidurlah dan besok pagi kau akan terbangun dirumahmu”.

Keesokan harinya kedua kakak si bungsu terkejut melihat si bungsu sedang memasak bubur untuk bapaknya. Karena si bungsu diperlakukan dengan istimewa oleh si buruk rupa, mereka berencana tidak akan membiarkan si bungsu kembali ke kastilnya si buruk rupa. Beberapa hari kemudian kesehatan bapaknya kembali putih dan sudah saatnya si bungsu kembali ke kastilnya si buruk rupa. Namun pada saat si bungsu ingin kembali kedua kakaknya mencegah dengan alasan tunggu sampai kesehatan bapak benar-benar putih dan si bungsu menyetujuinya. Satu minggu telah lewat si bungsu belum juga kembali ke kastilnya si buruk rupa, dan pada malam harinya si bungsu mendapat mimpi si buruk rupa terbujur kaku dengan wajah yang membiru.

Tanpa berpamitan kepada bapak dan kedua kakaknya ia langsung meninggalkan rumah dan kembali ke kastil.Setelah si bungsu sampai si bungsu melihat si buruk rupa terbujur kaku. Dengan cepat si bungsu mendekati si buruk rupa dengan meneteskan air matanya. Dengan tetesan air mata si bungsu tiba-tiba si buruk rupa berubah menjadi pria yang sangat tampan yang ternyata seorang pangeran.



Dongeng cerita Jenaka Abu Nawas dan Telur Unta

*Dongeng Cerita Jenaka Abu Nawas dan Telur Unta*
Suatu ketika Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit aneh. Tubuh Raja Harun Al Rasyid terasa kaku dan pegal, suhu badannya panas dan tak kuat untuk melangkah. Penyakitnya itu membuat sang raja tidak mau makan sehingga sakitnya bertambah parah.

Berbagai tabib sudah berdatangan mengobatinya tetepi tetap saja sakit. Obat pun banyak yang ia minum tapi tetap saja hasilnya.

Namun demikian, raja tidak mau menyerah. Ia ingin sembuh. Maka iapun memerintahkan pengawalnya untuk mengumumkan sebuah sayembara. Barang siapa bisa menyembuhkan penyakit sang Raja, maka akan diberikan hadiah.

Berita sayembara itu didengar oleh Abu Nawas. Ia tertarik dengan sayembara ini. Maka tidak lama kemudian, iapun memutar otak sebentar dan pergi ke istana Raja Harun Al Rasyid.
Sang Raja terkejut ketika melihat Abu Nawas datang hendak mengobati dirinya.

Hei.. Abu Nawas, setahuku kau bukan tabib, tapi mengapa kau ikut sayembara ini?. Heran sang raja.
He he he.. Tuan Raja, janganlah Anda melihat penampilanku, begini-begini aku bisa mengobati orang sakit.
Benarkah? kaget sang raja. Berarti engkau bisa menyembuhkan sakitku juga?
Oh... tentu Raja, jawab Abu Nawas, sebenarnya apa sakit Anda?
Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa seluruh tubuhku sakit dan badanku panas. Aku tampak lesu Abu Nawas, keluh sang raja Harun Al Rasyid.
ha... ha.. ha... ha... ha...Abu Nawas tertawa dengan jenaka.
Hei... Abu Nawas, apa yang lucu?
tidak Tuan, kalau penyakit itu sih gampang sekali menemukan obatnya, terang Abu Nawas.
Sungguh, kaget sang raja lagi. Apa nama obat itu dan dimana saya bisa menemukan obat itu?
baiklah saya beritahu Anda. Nama obat itu adalah telur unta. Anda bisa mendapatkannya di kota Baghdad ini.

Mendengar informasi itu sang raja merasa bersemangat ingin segera mendapatkan telur unta itu.
hei... Abu Nawas, awas jika kau bohong. Akan ku hukum kau?
Carilah dulu telur unta itu, jangan asal hukum saja sanggah Abu Nawas.
Dikisahkan dalam cerita humor ini Keesokan harinya sang raja berangkat dengan pengawalnya. Ia memakai baju rakyat biasa karena tidak ingin diketahui bahwa ia seorang raja.
Raja Harun Al Rasyid mengunjungi pasar-pasar yang ada di daerah baghdad tapi tidak ditemukan telur unta itu.

Raja Harun Al Rasyid tidak mau menyerah ia terus berjalan kerumah-rumah warga tapi tetap saja ia tidak menemukan telur unta. semangat Raja Harun Al Rasyid ini sungguh kuat sekali, ia tidak peduli seberapa jauh jarak yang ia tempuh untuk mencari telur unta. Hingga akhirnya ia sampai disebuah hutan.

Raja terus berjalan tanpa menghiraukan pengawalnya yang sudah kelelahan. Sambil menggerutu ia tetap berfikir dimanakah telur unta itu berada.
Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan ku hukum kau! gerutu sang raja. Pengawal bersiaplah menghukum Abu Nawas besok! siap raja, kata pengawal yang sudah kelelahan, tapi lebih baik kita pulang saja sekarang, memang sepertinya kita tidak menemukan telur itu.

Raja Harun Al Rasyid pun mempertimbangkan saran pengawalnya, namun beberapa saat kemudian ia melihat seorang kakek yang sedang membawa ranting.
Tunggu dulu pengawal, kita coba tanyakan kepada satu orang lagi, seru raja Harun Al Rasyid.
Sang Raja menghampiri kakek yang membawa ranting itu, melihat kondisinya yang sudah tua ia amat kasihan, maka iapun menawarkan jasanya untuk membawakan kayu-kayu itu.

Setelah sampai dirumahnya, Sang kakek mengucapkan terima kasih kepada Raja Harun Al-Rasyid yang ia tidak menyangka bahwa ia adalah seorang raja.
Terima kasih cuk, semoga Allah membalas kebaikan Cucuk?
Sama-sama kek, jawab Raja Harun Al Rasyid.
oh... iya kek, saya mau bertanya, apakah kakek punya telur unta tanya raja Harun Al Rasyid pada si kakek.
Telur unta? sang kakek kemudian berfikir sejenak.
Ha..ha..ha... ha...tawa sang kakek. Raja Harun Al Rasyid pun keheranan dan bertanya kepada sang kakek.
Apa saya salah kek? tanya Raja Harun Al Rasyid keheranan, bisa Anda jelaskan?
Cuk, di dunia ini mana ada telur unta. Setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan bukan bertelur, jadi mana ada telur unta.

Mendengar penjelasan dari sang kakek membuat sang raja dan pengawalnya tersentak kaget.
benar juga mana ada telur unta. Unta kan binatang yang melahirkan bukan bertelur, gumam sang raja.
Awas kau Abu Nawas!

Keesokan harinya sang raja dengan perasaan kesal menunggu kedatangan Abu Nawas yang telah mengerjainya. Dia mondar-mandir kesana kemari sambil mulutnya komat-kamit.
awas kau Abu Nawas! awas kau Abu Nawas!

Beberapa saat kemudian, Abu Nawas datang. Ia memberi senyum jenaka kepada Raja Harun Al Rasyid.Raja Harun Al rasyid langsung memarahinya.
Hai.. kau Abu Nawas, beraninya mengerjai ku. Aku tidak terima ini, sesuai dengan kesepakatan kita bahwa Aku akan menghukummu karena kau telah membohongiku, mana ada telur unta, unta itu hewan yang melahirkan bukan bertelur.

Anda benar Tuan Raja, sahut Abu Nawas membenarkan pernyataan raja Harun Al Rasyid telur unta itu sebenarnya tidak ada, unta hewan yang melahirkan bukan bertelur. Sambung Abu Nawas dengan ceritanya.
Lantas, mengapa kau menyuruhku untuk mencari telur itu?sanggah sang raja pokokya sekarang kamu harus dihukum.Tunggu dulu, tuan raja, sebelum saya dihukum, saya ingin bertanya.Tanya apa?
Bagaimana kondisi tubuh tuan raja hari ini? tanya Abu Nawas.
kondisi badanku, sahut Raja Harun Al Rasyid, aku merasa tubuhku tidak pegal dan sakit seperti kemarin-kemarin. suhu badanku pun turun, Sang raja pun terdiam sejenak.
Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitku hilang, penyakitku hilang Abu Nawas. Raja amat gembira mendengar cerita Abu Nawas.

Aku tahu, perjalananku yang amat jauh kemarin telah membuat tubuh-tubuhku yang tadinya jarang bergerak menjadi bergerak dan itu membuat aliran darahku yang semula beku menjadi lancar kembali. Benar Abu Nawas, itu penyebabnya, terima kasih Abu Nawas, sahut raja Harun Al Rasyid.
Benar tuan, kata Abu Nawas, tubuh yang tidak dibiasakan bergerak akan membuat darah membeku dan akhirnya menjadi penyakit, maka dari itu Raja, rajinlah bergerak.
Ya... memang akhir-akhir ini aku sering dikamar, jarang bergerak. Kemudian aku juga banyak makan. mungkin ini yang menyebabkan aku sakit, kata sang Raja Harun Al Rasyid. Abu Nawas maafkan aku telah memarahimu. Aku tidak akan menghukummu tapi aku akan memberikanmu hadiah karena telah memberiku saran yang luar biasa.
Terima kasih tuan raja. Jawab Abu Nawas singkat.